Kamis, 27 Juni 2019

A Life of Ease - Khutbah by Nouman Ali Khan



Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (Q.S. Ash-Sharh, 94: 1). Rasulullah menghadapi situasi yang sulit. Allah membuat hatinya senantiasa dalam keadaan damai.

dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu?(Q.S. Ash-Sharh, 94: 2-3). Rasulullah sebelum menjadi Rasul biasa berdiam diri di Gua Hira memikirkan masalah kaumnya. Allah  menghilangkan beban tersebut.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Q.S. Ash-Sharh, 94: 5). "Mubtada" (Subyek) dari ayat ini adalah kemudahan. Arti yang lebih pas untuk ayat diatas adalah "Kemudahan yang besar datang bersama dengan kesulitan". Fokus kalimat adalah kemudahan, bukan kesulitan. Hal ini penting karena Allah memfokuskan kita pada kemudahan, bukan kesulitan. Kesulitan memang akan kamu hadapi, tapi ketahuilah bahwa pada akhirnya kamu akan mendapatkan kemudahan.

Dalam ayat ini Allah menggambarkan kesulitan sebagai sesuatu yang dikenal dan kemudahan sebagai sesuatu yang bersifat lebih luas, tapi kurang dikenal. Orang mengetahui masalahnya, tapi belum tentu dia tahu bahwa Allah memberikan kemudahan kepada kita dalam masalah ini. Allah akan memberikan kemudahan dengan apa yang engkau ketahui dan tidak engkau ketahui. 

Ayat ini mengingatkan bahwa akan selalu ada kemudahan yang tidak terlihat oleh kita ketika kita menghadapi kesulitan. 

Kata "inna" berada disana untuk menyingkirkan keraguan. 

Kita yakin dengan adanya masalah, kita ragu tentang solusi. Kita mudah putus asa. Kita lebih yakin dengan hal yang negatif dan ragu-ragu dengan yang positif. 

Allah tidak menggunakan kata "sesudah", tapi "bersama". Bukan "ba'da", tapi "ma'a". Bedanya:
  1. Bisa jadi bersamaan dengan kesulitan itu ada kemudahan yang tidak kita sadari. 
  2. Untuk mendapatkan kemudahan, kamu harus merasakan kesulitan. Belajar sebelum dapat ijazah. Kerja sebelum dapat bonus. 
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, (Q.S. Ash-Sharh, 94: 7)

Sibukkan diri dengan dakwah dan ibadah. Dua hal yang menyibukkan Rasulullah:
  1. Sibuk dengan ibadah yang membuat Allah senang
  2. Sibuk membantu orang lain.
dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Q.S. Ash-Sharh, 94: 8)

Kita dalam perjalanan menuju kepada Allah. Kalau kita di jalan, kita akan ada di daerah yang bau, berbahaya, bila jalan terus, kita akan sampai pada tempat yang aman. 

Kalau kita, kita kebanyakan melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Ketika kita punya waktu kosong, kita mengisinya dengan main video game, menyalakan TV. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!