Sabtu, 22 Juni 2019

Arba'in Nawawi - Hadits ke-19 - Ustadz Suriani Jiddy, Lc (4)




Terakhir kita bicara masalah takdir dimana:

"Ketahuilah seandainya suatu umat bersatu untuk membantu kamu, mereka tidak akan dapat membantu kamu kecuali kalau sesuatu itu memang ditetapkan untukmu."

Dalam kitab Ushul Iman tentang buah iman kepada takdir:

  • Agar seseorang tidak kagum kepada diri sendiri bila sesuatu berhasil diraihnya.
  • Menimbulkan ketenangan dan kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang terjadi. Tidak gelisah karena sesuatu yang terjadi. 
Syukur dan Sabar
Sungguh luar biasa perkara seorang mu'min, sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Kalau dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur. Kalau dia mendapatkan sesuatu yang tidak disukainya dia bersabar. Dan itu adalah baik baginya. 

Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Kita perlu memperbaiki pandangan kita terhadap sesuatu.

Sifat pertama dari orang yang bertakwa adalah beriman kepada yang ghaib (sesuatu yang tidak bisa kita lihat, tidak bisa kita dengar). 

Buya Hamka dalam ceramahnya menyebutkan syukur dan sabar adalah ibarat kedua sayap burung. Sayap kanan adalah syukur dan sayap kiri adalah sabar.

Prinsip yang kedua: Allah pasti memberi yang terbaik untuk kita. Sikap ini disebut sebagai berbaik sangka kepada Allah.

Para ulama mengatakan bahwa salah satu pokok keimanan itu adalah berbaik sangka kepada Allah. 

Semua apa yang Allah lakukan kepada kita pasti mengandung hikmah yang mungkin kita tidak mengetahui hikmah tersebut.

Salman al-Audah dari Saudi Arabia dituduh sebagai teroris karena berjuang untuk membebaskan Palestina. 

Salman al-Audah mengatakan bahwa ada ucapan yang paling banyak dibaca kaum Muslimin yaitu syahadat dari adzan dan bacaan shalat. Yang kedua adalah bacaan basmalah. 

Mungkinkah Ar-Rahman dan Ar-Rahim menyakiti kita? Tentu tidak mungkin. Pasti ada hikmahnya untuk kita. 

"Barang siapa yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan kebaikan, Allah menyebabkan dia mendapatkan musibah." (Hadits). Yang paling penting dari orang yang mendapatkan musibah adalah dihapuskan dosa.

Sikap orang beriman menerima musibah

Sabar. 

Ketika mereka ditimpa musibah, mereka mengatakan: Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. 

Orang-orang yang ditimpa musibah kemudian sabar maka dia akan dimasukkan ke dalam surga. 

Salam sejahtera untuk kalian semua karena kesabaran kalian dan inilah sebaik-baik tempat (surga). 

Orang yang sabar menerima musibah, dosanya akan rontok sebagaimana rontoknya daun dari pohon.

Sesungguhnya Allah jika menyukai seorang hamba, Allah akan mengujinya.

Takdir baik manis yaitu nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang yang shaleh, untuk membantunya dalam ketaatan. Semakin banyak harta, semakin banyak infak. Banyak ilmu banyak mengajar. Misalnya Syaikh Sholeh Ar-Raji'i yang mencetak Qur'an sebanyak jutaan buah kemudian disebarkan ke seluruh dunia. Beliau memiliki Bank Ar-Raji'i. 

Takdir baik tapi pahit, misalnya sakit sampai meninggal.

Takdir buruk tapi manis - makin maksiat makin banyak nikmat. Makin maksiat makin sehat. Makin banyak maksiat makin sukses. Ini disebut istidraj.

Takdir buruk dan pahit. Orang kafir dapat musibah. Orang maksiat dapat musibah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!