MDMC Kapuas Resmi Dibentuk untuk Periode 2025–2030

Sabtu, 2 Agustus 2025 Bertempat di Kompleks Perguruan Muhammadiyah, Jalan Barito, Kuala Kapuas, telah diselenggarakan rapat pembentukan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kapuas untuk periode 2025–2030. Melalui rapat tersebut, susunan kepengurusan MDMC Kapuas ditetapkan sebagai berikut: Ketua: Muhammad Hipni, S.Kep., Ners Wakil Ketua: Much. Busyrol Fuad, S.Psi Sekretaris: Endang Andriyani, S.Pd., M.Pd. Bendahara: Sri Agustina, A.Md. MDMC, atau Muhammadiyah Disaster Management Center , adalah lembaga penanggulangan bencana di bawah naungan organisasi Muhammadiyah. Lembaga ini berfungsi sebagai pusat koordinasi sumber daya Muhammadiyah dalam kegiatan penanggulangan bencana, baik bencana alam maupun non-alam, di seluruh Indonesia. Dengan terbentuknya kepengurusan MDMC Kapuas, diharapkan akan semakin memperkuat kesiapsiagaan dan respon cepat Muhammadiyah terhadap berbagai potensi bencana di wilayah Kabupaten Kapuas dan sekitarnya. Berita dikirim oleh Bapa...

Arba'in Nawawi - Hadits ke-19 - Ustadz Suriani Jiddy, Lc (4)




Terakhir kita bicara masalah takdir dimana:

"Ketahuilah seandainya suatu umat bersatu untuk membantu kamu, mereka tidak akan dapat membantu kamu kecuali kalau sesuatu itu memang ditetapkan untukmu."

Dalam kitab Ushul Iman tentang buah iman kepada takdir:

  • Agar seseorang tidak kagum kepada diri sendiri bila sesuatu berhasil diraihnya.
  • Menimbulkan ketenangan dan kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang terjadi. Tidak gelisah karena sesuatu yang terjadi. 
Syukur dan Sabar
Sungguh luar biasa perkara seorang mu'min, sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Kalau dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur. Kalau dia mendapatkan sesuatu yang tidak disukainya dia bersabar. Dan itu adalah baik baginya. 

Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Kita perlu memperbaiki pandangan kita terhadap sesuatu.

Sifat pertama dari orang yang bertakwa adalah beriman kepada yang ghaib (sesuatu yang tidak bisa kita lihat, tidak bisa kita dengar). 

Buya Hamka dalam ceramahnya menyebutkan syukur dan sabar adalah ibarat kedua sayap burung. Sayap kanan adalah syukur dan sayap kiri adalah sabar.

Prinsip yang kedua: Allah pasti memberi yang terbaik untuk kita. Sikap ini disebut sebagai berbaik sangka kepada Allah.

Para ulama mengatakan bahwa salah satu pokok keimanan itu adalah berbaik sangka kepada Allah. 

Semua apa yang Allah lakukan kepada kita pasti mengandung hikmah yang mungkin kita tidak mengetahui hikmah tersebut.

Salman al-Audah dari Saudi Arabia dituduh sebagai teroris karena berjuang untuk membebaskan Palestina. 

Salman al-Audah mengatakan bahwa ada ucapan yang paling banyak dibaca kaum Muslimin yaitu syahadat dari adzan dan bacaan shalat. Yang kedua adalah bacaan basmalah. 

Mungkinkah Ar-Rahman dan Ar-Rahim menyakiti kita? Tentu tidak mungkin. Pasti ada hikmahnya untuk kita. 

"Barang siapa yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan kebaikan, Allah menyebabkan dia mendapatkan musibah." (Hadits). Yang paling penting dari orang yang mendapatkan musibah adalah dihapuskan dosa.

Sikap orang beriman menerima musibah

Sabar. 

Ketika mereka ditimpa musibah, mereka mengatakan: Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. 

Orang-orang yang ditimpa musibah kemudian sabar maka dia akan dimasukkan ke dalam surga. 

Salam sejahtera untuk kalian semua karena kesabaran kalian dan inilah sebaik-baik tempat (surga). 

Orang yang sabar menerima musibah, dosanya akan rontok sebagaimana rontoknya daun dari pohon.

Sesungguhnya Allah jika menyukai seorang hamba, Allah akan mengujinya.

Takdir baik manis yaitu nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang yang shaleh, untuk membantunya dalam ketaatan. Semakin banyak harta, semakin banyak infak. Banyak ilmu banyak mengajar. Misalnya Syaikh Sholeh Ar-Raji'i yang mencetak Qur'an sebanyak jutaan buah kemudian disebarkan ke seluruh dunia. Beliau memiliki Bank Ar-Raji'i. 

Takdir baik tapi pahit, misalnya sakit sampai meninggal.

Takdir buruk tapi manis - makin maksiat makin banyak nikmat. Makin maksiat makin sehat. Makin banyak maksiat makin sukses. Ini disebut istidraj.

Takdir buruk dan pahit. Orang kafir dapat musibah. Orang maksiat dapat musibah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas