Ketika Seorang Perempuan Yahudi Berdiri Membela Palestina

Gambar
Di tengah perdebatan yang semakin panas mengenai Palestina, ada satu kesaksian yang menarik perhatian dunia. Bukan karena disampaikan dengan suara lantang atau penuh kemarahan, melainkan karena ketenangan, kejernihan berpikir, dan keberanian moral yang ditunjukkan oleh seorang perempuan muda Yahudi bernama Yasmine Johnson . Saya menyaksikan kesaksiannya dalam sidang Royal Commission into Anti-Semitism and Social Cohesion di Australia. Selama hampir satu jam, ia menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tajam mengenai pandangannya tentang Palestina, Zionisme, kebebasan berpendapat, hingga tuduhan antisemitisme. Namun yang membuat saya benar-benar kagum bukanlah semata-mata isi argumennya, melainkan cara ia menyampaikannya. Tidak terlihat emosi yang meledak-ledak. Tidak ada nada marah. Tidak pula usaha menyerang lawan bicara secara pribadi. Sebaliknya, ia menjawab hampir setiap pertanyaan dengan tenang, sistematis, dan konsisten. Seorang Yahudi yang Memisahkan Agama dan Negara Yasmine Johns...

Setahun bersama COVID-19

 Hari ini admin tertarik dengan judul dari Updates on the COVID-19 pandemic from the Johns Hopkins Center for Health Security tanggal 30 Desember 2020: A Year with COVID-19.

Email bercerita tentang bagaimana perjalanan COVID-19 selama tahun 2020. Tulisan ini mencantumkan lini waktu perjalanan COVID-19 selama enam bulan terakhir.

Yang menarik dari email tersebut adalah bagaimana upaya yang dilakukan oleh berbagai negara untuk mengatasi COVID-19 ini. Negara-negara yang ketat dalam melaksanakan protokol kesehatan berhasil menjaga agar kasus COVID-19 di negara mereka tetap rendah. Namun negara-negara yang pada awalnya menerapkan "lock down" kemudian melonggarkan restriksi mereka, justru mengalami peningkatan kasus lagi.

Parahnya, peningkatan kasus pada beberapa negara setelah mereka melonggarkan protokol kesehatan justru lebih tinggi dari gelombang awal. Malah kasus-kasus baru mulai mengenai generasi muda. Bahkan sebagian ahli ada yang mendukung agar mereka yang berisiko rendah seperti anak muda, agar tetap beraktivitas dan menyebarkan virus tersebut di kalangan masyarakat sehingga muncul "herd immunity" (contohnya Great Barrington Declaration).

Upaya ini dilawan oleh para ahli yang tidak setuju dengan pendapat tersebut dengan membuat John Snow Memorandum. Memorandum ini mendukung penerapan protokol kesehatan yang sudah disepakati selama ini yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan tetap di rumah bila sakit.

Saat ini para ahli masih meneliti efek jangka panjang dari COVID-19. Hal ini masih terus diteliti mengingat makin banyak orang yang menderita penyakit ini dan kesulitan dalam membedakan apakah ini pengaruh dari COVID-19 atau penyebab-penyebab lain.

Keberadaan vaksin juga disinggung. Meskipun sudah banyak negara yang memberikan izin untuk pemanfaatan vaksin, namun ketersediaan vaksin di seluruh dunia masih memerlukan waktu yang cukup lama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)