The Salahuddin Generation (Ep. 7): — “Makam Nabi ﷺ Hampir Digali”: Saat Pilar Kepemimpinan Runtuh, Umat Terbelah… Lalu Disatukan oleh Ancaman yang Tak Terbayangkan

Gambar
 Ketika Nur ad-Din Zengi wafat, umat tidak hanya kehilangan seorang pemimpin—umat kehilangan paku penyangga yang menjaga persatuan. Dalam kekosongan itu, yang muncul bukan ketenangan, tetapi ketakutan, propaganda, transaksi harga diri , dan pecahnya loyalitas kota-kota Muslim. Namun episode ini menunjukkan satu ironi sejarah: ancaman paling keji justru menjadi pemantik persatuan terbesar. Sebab ketika sebuah rencana “mustahil” muncul—menggali makam Rasulullah ﷺ—dunia Islam tersadar: kalau bukan sekarang bersatu, kapan lagi? Ringkasan Per Segmen (dengan penanda waktu) 1) Wafatnya Nur ad-Din: Salahuddin Shock, Lalu Mengirim “Surat Persatuan” (0:00–3:52) Kabar wafat Nur ad-Din justru datang dari musuh. Salahuddin terguncang: Kalau benar wafat, mengapa ia tidak mendengar dari kaum Muslimin? Apakah ini rumor, tipu daya, atau tanda masalah besar? Respons Salahuddin bukan panik—tapi cepat dan terukur : ia mengirim surat ke kota-kota Syam, menekankan bahwa saat musibah jus...

Apa yang Anda tidak ketahui tentang perusahaan rokok adalah "membunuh kita"

 Jika Anda pikir Anda mengetahui bahaya rokok, pikir lagi. Industri rokok membeli jalan mereka untuk masuk ke dalam kehidupan kita, 

  • mulai dari politik sampai budaya populer, 
  • membiayai "think tank", dan kelompok garis depan untuk mendorong sains yang cacat,
  • mengeksploitasi petani
  • merusak lingkungan
semuanya untuk keuntungan. 
  • membuat orang tetap ketagihan
karena mereka perlu pelanggan baru untuk mengganti mereka yang sudah mati. 

Anda tidak perlu merokok untuk dirugikan oleh industri rokok.

Apa yang Anda tidak ketahui tentang perusahaan rokok adalah "membunuh kita"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas