Penduduk Indonesia Diproyeksikan Capai 328,9 Juta Jiwa pada 2050

Gambar
Indonesia masih akan mengalami pertumbuhan jumlah penduduk dalam beberapa dekade mendatang. Data World Population Data Sheet (WPDS) 2026 yang diterbitkan Population Reference Bureau (PRB) mencatat jumlah penduduk Indonesia pada 2026 sekitar 287,2 juta jiwa . Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 308,4 juta jiwa pada 2035 dan mencapai sekitar 328,9 juta jiwa pada 2050 . Artinya, dibandingkan kondisi 2026, jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan bertambah sekitar 41,7 juta jiwa dalam kurun waktu kurang lebih 24 tahun. Pertambahan penduduk ini akan membawa berbagai konsekuensi, mulai dari kebutuhan pelayanan kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, perumahan, hingga pembangunan perkotaan. Kelahiran Masih Lebih Tinggi daripada Kematian WPDS 2026 mencatat angka kelahiran Indonesia sebesar 16 kelahiran per 1.000 penduduk , sedangkan angka kematian sebesar 8 kematian per 1.000 penduduk . Pertumbuhan alami penduduk Indonesia berada pada kisaran 0,8 persen . Sementara itu, tingkat mig...

Chatbot dan Google



Ketika kecerdasan artifisial (Artificial Intellegence) kembali muncul setelah bertahun-tahun tidak tampil, layanan "chatbot" tersedia di berbagai situs web. Sejak dulu saya selalu memanfaatkan chatbot tersebut untuk mencari tahu informasi yang saya inginkan. Sayang sekali, saat pertama kali mengajukan pertanyaan, chatbot tersebut sudah kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Semakin banyak pertanyaan yang diajukan, makin bingung dia untuk menjawabnya.

Saat saya menggunakan Vira (http://vaxchat.org/), dia tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana saya: When Pfizer will be available in Indonesia. Saat itu saya langsung teringat dengan Google. Kalau kita mengetik sesuatu di Google, maka paling tidak ada hasil yang bisa dia berikan, beda sekali dengan chatbot. Jadi kalau dibandingkan dengan chatbot, maka Google adalah chatbot raksasa.

Dalam kenyataannya dari beberapa situs yang saya kunjungi, chatbot jarang berumur panjang. Ini menunjukkan bahwa manusia itu sangat beragam sekali isi otaknya, sehingga sebuah chatbot yang sangat sederhana belum mampu untuk menjawab pertanyaannya. Itulah sebabnya saya pernah bertanya kepada pembuat chatbot, apakah chatbot ini bisa diajar, sehingga makin lama makin pintar seperti Asisten Google. Mereka jawab bisa.

Meskipun demikian, kita tidak perlu merasa putus asa dengan chatbot, karena dengan berkembangnya NLP, maka makin lama chatbot ini akan makin pintar, jadi kelak dia akan bisa menyamai Google Asisten. Tidak ada satu produk yang langsung sempurna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)