Keajaiban Rekayasa pada Pergelangan Tangan Manusia

Gambar
  Pergelangan tangan mungkin terlihat sebagai bagian tubuh yang kecil dan sederhana. Namun, di balik ukurannya yang relatif kecil, terdapat susunan tulang, sendi, ligamen, tendon, saraf, dan pembuluh darah yang bekerja secara terpadu. Dalam sebuah presentasi yang ditayangkan melalui kanal Discovery Science, Stuart Burgess, seorang insinyur yang memiliki pengalaman dalam bidang rekayasa presisi, membahas struktur pergelangan tangan dari sudut pandang teknik. Ia menanggapi pendapat yang menyebut susunan tulang pergelangan tangan terlalu rumit dan merupakan contoh buruknya rancangan tubuh manusia. Menurut Burgess, kerumitan tidak selalu berarti kelemahan. Dalam banyak sistem teknik, kerumitan justru diperlukan agar sebuah mekanisme dapat menjalankan banyak fungsi sekaligus. Delapan Tulang dengan Fungsi yang Saling Mendukung Pergelangan tangan manusia tersusun atas delapan tulang karpal. Tulang-tulang tersebut terbagi dalam dua baris yang masing-masing terdiri atas empat tulang. Sekila...

Chatbot dan Google



Ketika kecerdasan artifisial (Artificial Intellegence) kembali muncul setelah bertahun-tahun tidak tampil, layanan "chatbot" tersedia di berbagai situs web. Sejak dulu saya selalu memanfaatkan chatbot tersebut untuk mencari tahu informasi yang saya inginkan. Sayang sekali, saat pertama kali mengajukan pertanyaan, chatbot tersebut sudah kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Semakin banyak pertanyaan yang diajukan, makin bingung dia untuk menjawabnya.

Saat saya menggunakan Vira (http://vaxchat.org/), dia tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana saya: When Pfizer will be available in Indonesia. Saat itu saya langsung teringat dengan Google. Kalau kita mengetik sesuatu di Google, maka paling tidak ada hasil yang bisa dia berikan, beda sekali dengan chatbot. Jadi kalau dibandingkan dengan chatbot, maka Google adalah chatbot raksasa.

Dalam kenyataannya dari beberapa situs yang saya kunjungi, chatbot jarang berumur panjang. Ini menunjukkan bahwa manusia itu sangat beragam sekali isi otaknya, sehingga sebuah chatbot yang sangat sederhana belum mampu untuk menjawab pertanyaannya. Itulah sebabnya saya pernah bertanya kepada pembuat chatbot, apakah chatbot ini bisa diajar, sehingga makin lama makin pintar seperti Asisten Google. Mereka jawab bisa.

Meskipun demikian, kita tidak perlu merasa putus asa dengan chatbot, karena dengan berkembangnya NLP, maka makin lama chatbot ini akan makin pintar, jadi kelak dia akan bisa menyamai Google Asisten. Tidak ada satu produk yang langsung sempurna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini