Dicintai Saja Tidak Cukup, Kita Juga Perlu Merasa Dikenal

Gambar
  Banyak orang ingin dicintai. Namun, ada pertanyaan yang sering luput kita renungkan: bagaimana mungkin kita merasa benar-benar dicintai, kalau kita tidak merasa benar-benar dikenal? Pertanyaan ini menjadi inti tulisan Sonja Lyubomirsky dan Harry Reis dalam artikel How Can We Feel Loved If We Don’t Feel Known? yang dimuat di Behavioral Scientist. Keduanya adalah peneliti yang mendalami kebahagiaan dan hubungan antarmanusia. Mereka menjelaskan bahwa salah satu faktor besar yang membuat seseorang bahagia bukan sekadar memiliki banyak hal, tampak sukses, atau dikagumi banyak orang, melainkan merasa dicintai secara tulus . Namun, merasa dicintai ternyata tidak selalu mudah. Banyak orang sebenarnya memiliki keluarga, pasangan, sahabat, atau lingkungan yang peduli, tetapi tetap merasa kesepian, tidak dipahami, atau kurang dihargai. Menurut Lyubomirsky dan Reis, masalahnya sering kali bukan karena tidak ada cinta, melainkan karena cara kita memahami cinta kadang keliru. Dicintai Buk...

Revolusi AI dalam Kedokteran: Dari Laboratorium hingga Klinik




Era Baru Kedokteran: Kemajuan AI yang Mengubah Wajah Penelitian dan Praktik Medis

Oleh: Eric Topol

Selama 17 tahun terakhir, saya berkesempatan bekerja di Scripps Research, institusi biomedis nirlaba terbesar di negara ini. Saya menyaksikan rekan-rekan saya yang menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk mendefinisikan struktur kristal 3D suatu protein. Kini, berkat AlphaFold dari DeepMind, yang diakui oleh American Nobel Prize, pekerjaan yang sama dapat diselesaikan dalam hitungan menit.

AlphaFold, karya Demis Hassabis dan John Jumper, tidak hanya mempercepat penelitian protein, tetapi juga telah menginspirasi model prediksi struktur protein lain, termasuk RNA dan antibodi. Lebih jauh lagi, AlphaFold membuka jalan dalam mendeteksi mutasi genetik dan menciptakan protein baru yang tidak ada di alam.

Namun, pertanyaan muncul: jika tim ilmuwan sendiri tidak sepenuhnya memahami cara kerja model transformer AI ini, apakah AI juga seharusnya mendapat pengakuan?

Di bidang kedokteran, kita sering mengabaikan kesalahan diagnostik medis. Menurut National Academy of Medicine, setiap orang akan mengalami setidaknya satu kesalahan diagnostik dalam hidupnya. Studi Johns Hopkins menunjukkan bahwa kesalahan tersebut menyebabkan 800.000 kematian atau kecacatan serius di Amerika setiap tahun. AI dapat membantu mengurangi masalah ini melalui apa yang disebut "precision medicine".

Contoh nyata dari ini adalah penelitian retina, di mana AI dapat mengidentifikasi gender seseorang dengan akurasi 97%, jauh melebihi kemampuan manusia. Kemampuan ini berpotensi mengubah cara kita melakukan diagnosis medis, dari X-ray dada hingga analisis slide patologi.

Dalam cardiology, AI juga telah menunjukkan kemampuan luar biasa. Dari membaca EKG hingga menentukan diagnosis penyakit yang sering terlewat oleh dokter, AI telah membuktikan efektivitasnya. Terlebih lagi, AI dapat membantu dalam mendeteksi penyakit seperti Alzheimer dan Parkinson jauh sebelum gejala klinis muncul.

Penggunaan AI tidak terbatas pada analisis gambar saja. Dengan perkembangan model seperti GPT-4, yang memiliki lebih dari satu triliun koneksi, AI kini dapat mengolah bahasa, gambar, dan ucapan. Ini membuka kemungkinan baru dalam medis, termasuk "keyboard liberation" bagi dokter, memungkinkan mereka untuk lebih fokus pada interaksi langsung dengan pasien.

Kasus-kasus seperti Andrew, yang didiagnosis dengan spina bifida occulta oleh ChatGPT setelah berkonsultasi dengan 17 dokter, menunjukkan potensi AI dalam membantu diagnosis medis. Demikian pula, kasus seorang pasien yang salah didiagnosis dengan long COVID, tetapi ChatGPT berhasil mengidentifikasi kondisi sebenarnya sebagai limbic encephalitis.

Dengan semakin banyaknya studi yang membuktikan efektivitas AI dalam medis, era baru kedokteran tampaknya telah tiba. Ini adalah masa yang menarik, dengan kemajuan AI yang berpotensi mengubah cara kita memandang dan melakukan praktik medis. Kita berada di ambang revolusi, di mana AI tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga partner yang esensial dalam dunia kesehatan.

Artikel ini dibuat dari transkrip video di atas oleh ChatGPT.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)