Pendidikan dan Gizi: Peran Penting Makanan di Sekolah untuk Pembelajaran dan Kesetaraan

Gambar
  Bagi anak-anak di berbagai negara, termasuk di sekitar kita, makanan bergizi yang mereka santap di sekolah seringkali menjadi penentu; antara masuk kelas atau tinggal di rumah, antara berhasil lulus ujian atau tertinggal pelajaran. Program makan di sekolah telah terbukti menjadi salah satu investasi paling praktis dan efektif yang dapat dilakukan sebuah negara untuk meningkatkan kehadiran siswa, memperkuat hasil belajar, dan memajukan kesetaraan, terutama di tengah situasi krisis. Artikel ini diadaptasi dari tulisan Anna Horner, Koordinator Senior UN-Nutrition, dan Alexandra Newlands, Kepala Jaringan Masyarakat Sipil SUN (Scaling Up Nutrition). Dalam tulisan mereka, ditekankan bagaimana program makanan di sekolah menjadi contoh nyata bahwa gizi dan pendidikan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Belajar dari Filipina dan Brazil Gerakan Scaling Up Nutrition (SUN) telah menunjukkan kekuatan kolaborasi untuk mengubah konsep integrasi menjadi aksi nyata. Pada Oktober 2025, per...

Yesus: Pria, Utusan, dan Al-Masih

Dalam sejarah agama, sosok Yesus adalah salah satu tokoh yang paling dikenal, dipuja, tetapi juga sering disalahpahami. Hampir dua miliar umat Kristiani dan lebih dari 1,5 miliar umat Muslim percaya pada keberadaan Yesus, tetapi memiliki pandangan yang berbeda mengenai siapa dia sebenarnya. Buku "Jesus: Man, Messenger, Messiah" karya Abu Zakariya mengeksplorasi pandangan ini, menjembatani kesenjangan pemahaman antara Islam dan Kristen, dan menawarkan perspektif Islam tentang Yesus.


Pandangan Islam tentang Yesus

Dalam Islam, Yesus dikenal sebagai Isa Al-Masih, seorang nabi besar dan utusan Allah. Ia dihormati sebagai manusia pilihan yang membawa pesan ilahi kepada umatnya, tetapi bukan Tuhan atau anak Tuhan. Al-Qur'an menjelaskan bahwa Yesus adalah manusia biasa yang diangkat derajatnya oleh Allah, dan ia diberikan mukjizat untuk memperkuat keimanannya.

Islam menolak konsep Trinitas yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah satu hakikat dalam tiga pribadi (Bapa, Anak, dan Roh Kudus). Sebaliknya, Islam menegaskan keesaan Allah (Tawhid), yang berarti Allah adalah satu, tidak terbagi, dan tidak memiliki sekutu. Pandangan ini berakar pada keyakinan bahwa Tuhan tidak membutuhkan bantuan atau inkarnasi untuk mengatur ciptaan-Nya.


Yesus dalam Kristen

Buku ini juga menjelaskan evolusi konsep tentang Yesus dalam Kekristenan. Dalam ajaran awal, banyak kelompok Kristen memiliki pandangan yang beragam mengenai siapa Yesus. Sebagian percaya bahwa Yesus adalah sepenuhnya manusia, sementara lainnya menganggapnya sebagai sepenuhnya ilahi. Ada juga kelompok yang meyakini bahwa Yesus adalah gabungan dari sifat manusia dan ilahi.

Konsep Trinitas, yang saat ini menjadi doktrin utama dalam Kekristenan, tidak berkembang hingga beberapa abad setelah kematian Yesus. Konsili Nicea tahun 325 M adalah titik balik ketika Trinitas mulai diformalkan, didorong oleh peran politik Kaisar Konstantinus. Namun, doktrin ini tetap menuai perdebatan hingga Konsili Konstantinopel pada tahun 381 M dan Konsili Kalsedon pada tahun 451 M.


Kesimpulan

Melalui buku ini, Abu Zakariya mengajak pembaca untuk berpikir kritis tentang keyakinan mereka dan menggali kebenaran secara objektif. Ia menekankan pentingnya menggunakan akal dan penalaran dalam memahami agama. Baginya, Yesus adalah sosok yang menginspirasi, tetapi pesan sejatinya harus dipahami melalui wahyu yang murni.

Bagi umat Muslim, memahami pandangan Kristen tentang Yesus adalah langkah penting untuk memperkuat dialog antaragama. Sebaliknya, bagi umat Kristiani, memahami pandangan Islam dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dan menciptakan hubungan yang lebih harmonis.

Sumber: https://iera.org/wp-content/uploads/2024/10/jesus-man-messenger-messiah-abu-zakariya.pdf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas