Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Yesus: Pria, Utusan, dan Al-Masih

Dalam sejarah agama, sosok Yesus adalah salah satu tokoh yang paling dikenal, dipuja, tetapi juga sering disalahpahami. Hampir dua miliar umat Kristiani dan lebih dari 1,5 miliar umat Muslim percaya pada keberadaan Yesus, tetapi memiliki pandangan yang berbeda mengenai siapa dia sebenarnya. Buku "Jesus: Man, Messenger, Messiah" karya Abu Zakariya mengeksplorasi pandangan ini, menjembatani kesenjangan pemahaman antara Islam dan Kristen, dan menawarkan perspektif Islam tentang Yesus.


Pandangan Islam tentang Yesus

Dalam Islam, Yesus dikenal sebagai Isa Al-Masih, seorang nabi besar dan utusan Allah. Ia dihormati sebagai manusia pilihan yang membawa pesan ilahi kepada umatnya, tetapi bukan Tuhan atau anak Tuhan. Al-Qur'an menjelaskan bahwa Yesus adalah manusia biasa yang diangkat derajatnya oleh Allah, dan ia diberikan mukjizat untuk memperkuat keimanannya.

Islam menolak konsep Trinitas yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah satu hakikat dalam tiga pribadi (Bapa, Anak, dan Roh Kudus). Sebaliknya, Islam menegaskan keesaan Allah (Tawhid), yang berarti Allah adalah satu, tidak terbagi, dan tidak memiliki sekutu. Pandangan ini berakar pada keyakinan bahwa Tuhan tidak membutuhkan bantuan atau inkarnasi untuk mengatur ciptaan-Nya.


Yesus dalam Kristen

Buku ini juga menjelaskan evolusi konsep tentang Yesus dalam Kekristenan. Dalam ajaran awal, banyak kelompok Kristen memiliki pandangan yang beragam mengenai siapa Yesus. Sebagian percaya bahwa Yesus adalah sepenuhnya manusia, sementara lainnya menganggapnya sebagai sepenuhnya ilahi. Ada juga kelompok yang meyakini bahwa Yesus adalah gabungan dari sifat manusia dan ilahi.

Konsep Trinitas, yang saat ini menjadi doktrin utama dalam Kekristenan, tidak berkembang hingga beberapa abad setelah kematian Yesus. Konsili Nicea tahun 325 M adalah titik balik ketika Trinitas mulai diformalkan, didorong oleh peran politik Kaisar Konstantinus. Namun, doktrin ini tetap menuai perdebatan hingga Konsili Konstantinopel pada tahun 381 M dan Konsili Kalsedon pada tahun 451 M.


Kesimpulan

Melalui buku ini, Abu Zakariya mengajak pembaca untuk berpikir kritis tentang keyakinan mereka dan menggali kebenaran secara objektif. Ia menekankan pentingnya menggunakan akal dan penalaran dalam memahami agama. Baginya, Yesus adalah sosok yang menginspirasi, tetapi pesan sejatinya harus dipahami melalui wahyu yang murni.

Bagi umat Muslim, memahami pandangan Kristen tentang Yesus adalah langkah penting untuk memperkuat dialog antaragama. Sebaliknya, bagi umat Kristiani, memahami pandangan Islam dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dan menciptakan hubungan yang lebih harmonis.

Sumber: https://iera.org/wp-content/uploads/2024/10/jesus-man-messenger-messiah-abu-zakariya.pdf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"