Al-Qur’an, Keserakahan, dan Keadilan Ekonomi

Gambar
Banyak orang memahami bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Makkah terutama berbicara tentang keimanan, tauhid, hari akhir, dan penolakan terhadap penyembahan berhala. Sementara itu, aturan-aturan kehidupan dianggap baru banyak diturunkan setelah Nabi Muhammad saw. berhijrah ke Madinah. Pemahaman tersebut tidak sepenuhnya keliru. Namun, apabila ayat-ayat Makkiyah dipelajari lebih dalam, akan terlihat bahwa Al-Qur’an sejak awal juga memberikan perhatian besar terhadap persoalan ekonomi, kekuasaan, kesenjangan sosial, dan keserakahan manusia. Dalam khutbahnya, Nouman Ali Khan menjelaskan bahwa kritik Al-Qur’an pada masa Makkah tidak semata-mata ditujukan kepada seluruh orang yang belum beriman. Banyak kritik tersebut secara khusus diarahkan kepada kelompok elite Quraisy, yaitu orang-orang yang memiliki kekayaan, pengaruh sosial, kekuasaan politik, atau kedudukan keagamaan. Al-Qur’an Mengkritik Elite yang Korup Sebagian besar masyarakat Makkah pada masa itu hidup dalam keadaan sed...

Ketika Masalah Kecil Menguasai Hidup Kita


Pernahkah Anda merasa sangat kesal hanya karena hal kecil? Seseorang meminum minuman Anda, tidak membalas pesan, atau bahkan datang ke acara dengan baju yang sama. Hal-hal sepele seperti ini terkadang bisa membuat kita terdiam, marah, atau bahkan merasa patah semangat.

Ternyata, masalahnya bukan pada minuman atau pesan tadi. Dalam lubuk hati, kita tahu ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang terganggu.

Dalam Surah Al-Ma’arij ayat 20, Allah menggunakan kata massa, yang berarti "sentuhan paling ringan". Bukan pukulan, bukan hantaman, melainkan gangguan kecil seperti angin sepoi atau bisikan setan. Tapi gangguan kecil ini bisa cukup kuat untuk membuat emosi kita runtuh.

Allah menggambarkan kondisi ini dengan kata jazu’a, yaitu ketika seseorang mengalami keruntuhan batin. Ia bukan sekadar sedih, tapi benar-benar kehilangan kekuatan, harapan, dan arah hidup. Masalah kecil berubah menjadi luka yang terasa besar.

Ini bukan masalah kepribadian. Ini adalah kondisi spiritual.

Bayangkan seorang jenderal yang tengah memimpin perang penting. Tapi tiba-tiba ia terganggu oleh seekor nyamuk dan menghabiskan waktunya memikirkan nyamuk itu. Masalahnya bukan pada nyamuk, tapi pada cara pandangnya yang menyempit.

Begitulah yang sering terjadi pada kita. Kita diciptakan untuk misi mulia—melanjutkan warisan para nabi. Tapi hidup kita dipenuhi kekhawatiran kecil: jangan sampai menyinggung keluarga, tampil bagus di depan orang, atau tidak kalah gaya saat Lebaran.

Allah tidak menciptakan kita untuk sekadar menang dalam perdebatan atau tampil paling keren. Kita diciptakan untuk sesuatu yang jauh lebih besar.

Ketika hidup tidak memiliki tujuan besar, pandangan kita mengecil. Segalanya terasa tentang “aku”—perasaanku, keinginanku, kekecewaanku. Akhirnya, kita menjadi pribadi yang halu’a—mudah cemas, mudah tersinggung, dan selalu merasa tidak puas.

Ini bukan soal kepribadian. Ini soal kita yang terputus dari ruh. Padahal, ruh itu ditiupkan langsung oleh Allah, dimuliakan melebihi para malaikat, dan bahkan membuat Iblis iri. Tapi kita hidup seolah ruh itu tidak ada.

Iblis tidak perlu mendorong kita melakukan kejahatan besar. Cukup membuat kita lupa siapa diri kita sebenarnya—terjebak pada penampilan, status, dan harta. Terlalu sibuk dengan hal-hal kecil, hingga lupa pada jiwa yang terlupakan.

Lalu bagaimana kita bisa pulih?

Allah memberikan jawabannya dalam ayat berikutnya: “Kecuali orang-orang yang shalat…” (QS. Al-Ma’arij: 22). Bukan shalat asal-asalan, tapi shalat yang menjadi tempat kita kembali—kepada Allah, kepada ruh, dan kepada misi hidup yang sebenarnya.

Shalat yang seperti ini menenangkan hati. Ia mengikat kita pada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kejadian hari ini.

Sumber: Nouman Ali Khan, Bayyinah, 9 Mei 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)