Kisah Nabi Nuh: Pelajaran Ramadan tentang Sabar, Dakwah, dan Doa
Pernah merasa agenda rapat penuh, pekerjaan menumpuk, orang-orang tampak bekerja keras, tetapi hasilnya seperti “jalan di tempat”? Dalam sebuah sesi berbagi materi tentang Team Alignment & Performance, pemateri menggambarkan kondisi yang sering terjadi di banyak organisasi: target sudah jelas, KPI sudah dibuat rapi, kalender penuh, namun keputusan lambat, koordinasi melelahkan, dan dampak kerja sulit terlihat.
Masalahnya sering bukan pada “kurang kerja”, melainkan kurang selaras: arah organisasi, peran tiap orang, cara berkolaborasi, hingga budaya kerja yang terbentuk sehari-hari. Inilah yang disebut team alignment—penyelarasan agar energi tim benar-benar mengarah ke tujuan yang sama, bukan sekadar ramai aktivitas.
Secara sederhana, team alignment adalah kondisi ketika tim:
paham prioritas organisasi,
tahu bagaimana strategi diterjemahkan menjadi peran dan kontribusi,
bekerja dengan pola komunikasi kinerja yang jelas,
melakukan monitoring dan evaluasi secara terstruktur,
serta mengaitkan kinerja dengan pengembangan talenta.
Intinya: bukan hanya bekerja, tetapi bekerja ke arah yang tepat dan dengan cara yang tepat.
Dalam materi, beberapa gejala yang umum muncul antara lain:
rapat berulang tetapi minim keputusan,
koordinasi antar unit alot,
energi habis untuk urusan internal,
pekerjaan dobel karena antar tim tidak saling tahu,
rasa saling menyalahkan meningkat,
kinerja seperti stagnan walau semua tampak sibuk.
Salah satu akar masalah klasiknya adalah “silo”: unit fokus mengejar KPI masing-masing (local optimization), tetapi tidak selaras dengan tujuan organisasi secara utuh (system optimization). Akibatnya, antar unit bisa saling tarik-menarik kepentingan dan akhirnya tidak sejalan.
Menariknya, alignment tidak berhenti di dokumen KPI. Materi menjelaskan ada 4 level yang sering menjadi sumber “macetnya” organisasi:
Strategic alignment
Apakah semua orang paham 2–3 prioritas utama organisasi? Kalau ada konflik tujuan, mana yang harus didahulukan?
Structural alignment
Apakah KPI, SOP, dan sistem penghargaan benar-benar mendukung strategi? Kadang strategi bilang “inovasi”, tapi sistem justru menghukum kesalahan dan memperlambat keputusan.
Behavioral alignment
Apakah perilaku pimpinan dan pengambilan keputusan benar-benar sejalan dengan pesan yang disampaikan? Ini sering jadi sumber masalah terbesar.
Cultural alignment
Budaya tidak tertulis: “boleh berbeda pendapat atau tidak?”, “harus selalu formal atau bisa koordinasi operasional?”, “lebih dihargai aman atau berani mencoba?”—semua ini sangat memengaruhi eksekusi.
Ada konsep yang sangat relevan untuk banyak organisasi: shadow KPI—target tidak tertulis yang diam-diam lebih “ditakuti” daripada KPI resmi. Contoh sederhana: “yang penting jangan bikin masalah”, “jangan beda pendapat”, atau “lebih aman kalau tunggu atasan”. Shadow KPI seperti ini membuat orang tidak berani mengambil keputusan, tidak berani kolaborasi, dan akhirnya inovasi mati pelan-pelan.
Karena itu, rapat manajemen idealnya tidak hanya membahas dashboard angka, tetapi juga membahas sinyal dan perilaku yang terbentuk di lapangan.
Salah satu pesan penting dari materi ini: perubahan alignment bukan soal mengontrol semuanya, tetapi konsistensi sinyal. Dan untuk memulai, pilih satu titik ungkit yang paling berdampak dalam 90 hari: perbaiki satu dimensi (strategic/structural/behavioral/cultural), tetapkan perilaku yang harus dihentikan, perilaku yang perlu diperkuat, serta satu ritual baru yang konsisten dijalankan.
Bagi Anda yang ingin mempraktikkan konsep-konsep di atas secara lebih terarah, tersedia program:
WORKSHOP: Team Alignment & Performance
Tema: Menyelaraskan Arah, Peran, dan Kinerja Tim
Pemateri: Riani Rachmawati, Ph.D. (Senior Consultant, Lembaga Manajemen FEB UI)
Topik pembahasan:
menyelaraskan arah kerja tim dengan tujuan dan prioritas organisasi
menerjemahkan strategi menjadi peran dan kontribusi tim
mengelola komunikasi kinerja dan progres kerja tim
monitoring dan evaluasi kinerja secara terstruktur
menghubungkan kinerja tim dengan pengembangan talenta
Benefit:
konsultasi langsung dengan praktisi SDM dan kinerja
feedback atas worksheet yang dikerjakan
e-sertifikat dan akses modul via LMS
Jadwal:
Sharing Session (Gratis): Sabtu, 14 Februari 2026, 08.00–09.30 WIB
Practical Workshop: Sabtu, 28 Februari 2026, 08.00–11.00 WIB
Biaya workshop tertera promo 229K (dari 329K)
(Informasi pendaftaran dapat diakses melalui QR code pada poster.)
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!