Kisah Nabi Nuh: Pelajaran Ramadan tentang Sabar, Dakwah, dan Doa
Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan “mengisi ulang” (recharge) iman, memperbaiki cinta kepada Allah, menumbuhkan kepedulian sosial, dan menguatkan semangat kolaborasi dalam kebaikan. Dalam salah satu kajian tarhib Ramadan, Dr. K.H. Atabik Luthfi, M.A. mengajak kita meneladani Nabi Nuh ‘alaihissalam melalui pesan-pesan utama dalam Surat Nuh.
Kisah Nabi Nuh bukan hanya cerita masa lalu. Ia adalah cermin bagi siapa pun yang sedang berjuang di jalan kebaikan—di rumah, di kantor, di masyarakat, bahkan di dalam perjuangan memperbaiki diri.
Nabi Nuh: Rasul yang Sabar dalam Ujian Panjang
Nabi Nuh dikenal sebagai nabi yang diuji dengan kesabaran luar biasa. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa beliau berdakwah kepada kaumnya dalam waktu yang sangat lama—hingga 950 tahun. Bayangkan, betapa panjang dan melelahkannya perjuangan itu.
Dari sini kita belajar: kesabaran bukan sekadar diam, tetapi bertahan dalam ketaatan dan tetap teguh dalam kebenaran. Ramadan pun mengajarkan sabar: sabar menahan emosi, sabar menjaga lisan, sabar melawan kebiasaan buruk, sabar istiqamah ibadah, dan sabar menjaga hubungan baik dengan sesama.
Sabar inilah yang membuat Ramadan bukan hanya “rutinitas tahunan”, melainkan proses membentuk karakter.
Dakwah Itu Lebih Luas dari Ceramah
Pelajaran kedua yang sangat ditekankan adalah dakwah. Ramadan sering disebut sebagai “bulan dakwah”. Namun dakwah bukan hanya ceramah di mimbar atau pengajian. Dakwah adalah mengajak kepada Allah melalui cara yang sesuai dengan peran masing-masing.
-
Seorang ayah berdakwah saat mendidik anak dengan kasih sayang dan ketegasan yang adil.
-
Seorang ibu berdakwah saat menanamkan adab dan nilai Islam dalam keseharian rumah.
-
Seorang ASN berdakwah saat bekerja jujur, melayani dengan amanah, dan tidak mengambil yang bukan haknya.
-
Seorang pedagang berdakwah saat menjaga kejujuran timbangan dan tidak menipu.
-
Seorang anak muda berdakwah saat menjaga pergaulan dan mengajak teman pada kebaikan.
Nabi Nuh berdakwah terus-menerus kepada kaumnya, meski respons yang beliau terima tidak selalu baik. Dari sini kita belajar: tugas kita menyampaikan dan mencontohkan, bukan memaksa hasil. Hidayah tetap milik Allah.
Doa: Senjata Orang Beriman, Terutama di Ramadan
Pelajaran ketiga adalah doa. Ramadan memang bulan doa. Di tengah rangkaian ayat-ayat puasa, Allah menegaskan bahwa Dia dekat dan mengabulkan doa hamba-Nya yang memohon.
Dalam Surat Nuh, ada bagian doa yang sangat menggetarkan: Nabi Nuh berdoa dengan tegas terhadap kaumnya yang membangkang. Doa ini dikenal sebagai doa yang “keras”—bukan karena Nabi Nuh emosional sesaat, tetapi karena penolakan kaumnya telah berlangsung lama, berulang, dan begitu berat.
Namun yang menarik, Surat Nuh tidak berhenti di situ.
Penutup yang Menyejukkan: Doa Ampunan untuk Diri, Orang Tua, dan Kaum Beriman
Di bagian akhir, Nabi Nuh menutup dengan doa yang sangat lembut dan penuh harap:
Beliau memohon ampunan:
-
untuk dirinya,
-
untuk kedua orang tuanya,
-
dan untuk seluruh kaum beriman, laki-laki maupun perempuan.
Penutup ini mengajarkan sesuatu yang penting: ujung dari perjuangan orang beriman adalah kembali kepada rahmat Allah. Bahkan ketika seseorang sedang berjuang keras melawan kebatilan, hatinya tetap bersandar pada ampunan, bukan kebencian.
Ramadan pun mengajarkan pola yang sama: kita menahan diri, berjuang, memperbaiki sikap, lalu menutupnya dengan istighfar dan doa. Karena sehebat apa pun usaha manusia, ia tetap membutuhkan ampunan Allah.
Tiga Bekal Ramadan dari Kisah Nabi Nuh
Jika diringkas, kisah Nabi Nuh mengajarkan tiga bekal besar untuk menjalani Ramadan:
-
Sabar
Bertahan dalam kebaikan, bukan hanya semangat di awal Ramadan. -
Dakwah
Mengajak kepada Allah lewat peran masing-masing: di rumah, tempat kerja, dan masyarakat. -
Doa
Memperbanyak doa, terutama doa ampunan—untuk diri, orang tua, dan kaum beriman.
Kisah Nabi Nuh memberi harapan: perjuangan yang panjang tidak sia-sia. Meski hasil tidak selalu terlihat cepat, Allah menilai keteguhan dan keikhlasan. Ramadan adalah waktu terbaik untuk memulai, memperbaiki, dan menguatkan kembali langkah kita.
Sumber: https://www.youtube.com/live/ShuzecGBcyQ?si=Ht5AUl5cWChePVQo

Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!