Film Dokumenter American Doctor Rekam Perjuangan Tenaga Medis di Tengah Krisis Gaza
INFORMASI KAPUAS – Sebuah film dokumenter baru berjudul American Doctor mengangkat perjuangan para dokter yang bekerja di tengah rusaknya layanan kesehatan dan membeludaknya jumlah pasien di Jalur Gaza. Film tersebut mengikuti perjalanan tiga dokter asal Amerika Serikat yang menjadi sukarelawan di sejumlah rumah sakit di wilayah itu.
Dokumenter ini menampilkan dokter bedah ortopedi Mark Perlmutter dari Carolina Utara, dokter bedah trauma Feroze Sidhwa dari California, serta dokter instalasi gawat darurat Thaer Ahmad dari Chicago. Ahmad merupakan seorang warga Amerika keturunan Palestina.
Dalam wawancara bersama program berita Democracy Now!, sutradara film American Doctor, Poh Si Teng, menjelaskan bahwa film tersebut dibuat untuk memperlihatkan dampak perang melalui sudut pandang tenaga kesehatan. Film itu juga merekam kegiatan staf medis Palestina yang tetap merawat pasien dalam keadaan serba terbatas.
Menurut pejabat Palestina sebagaimana dikutip dalam program tersebut, sekitar 1.700 tenaga kesehatan di Gaza dilaporkan meninggal akibat serangan Israel sejak Oktober 2023. Angka ini merupakan data yang disampaikan pihak Palestina dan tidak diverifikasi secara independen dalam wawancara tersebut.
Rumah Sakit Menghadapi Gelombang Pasien
Cuplikan film memperlihatkan rumah sakit yang kewalahan menerima pasien dalam jumlah besar. Para dokter mengatakan mereka harus menentukan pasien yang lebih dahulu ditangani, sementara obat pereda nyeri, antibiotik, persediaan darah, ruang operasi, dan peralatan medis sangat terbatas.
Dokter Thaer Ahmad mengatakan bahwa keadaan tersebut membuat tenaga medis harus mengambil keputusan sulit setiap hari. Mereka menghadapi pasien dengan cedera berat, tetapi tidak selalu memiliki obat dan sarana yang dibutuhkan untuk memberikan perawatan yang memadai.
Film ini turut menyoroti keadaan anak-anak yang terluka dan harus menjalani tindakan medis dalam situasi darurat. Tim pembuat film mengaku sempat menghadapi dilema mengenai seberapa jauh gambar penderitaan korban perlu ditampilkan kepada penonton.
Menurut sutradara Poh Si Teng, terlalu banyak menampilkan gambar korban dapat membuat penonton merasa terguncang dan berpaling. Namun, jika terlalu sedikit diperlihatkan, kenyataan yang dihadapi para pasien dan tenaga medis dikhawatirkan tidak tersampaikan secara utuh.
Pada akhirnya, film tersebut berusaha menjaga keseimbangan antara menunjukkan beratnya keadaan di lapangan dan tetap menghormati martabat para korban.
Dokter Datang untuk Merawat dan Menjadi Saksi
Dokter Feroze Sidhwa mengatakan dirinya menjalankan misi medis di Gaza pada Maret hingga April 2024. Ia kembali ke wilayah tersebut pada periode yang sama pada 2025. Upaya berikutnya untuk masuk pada November 2025, menurut penuturannya, tidak mendapat izin dari militer Israel.
Ia menilai keadaan layanan kesehatan di Gaza semakin memburuk antara kunjungan pertama dan kedua. Jumlah pasien bertambah, rumah sakit semakin padat, sedangkan kerusakan pada fasilitas kesehatan semakin luas.
Sidhwa mengaku tidak mempunyai hubungan etnis ataupun keagamaan dengan Palestina dan Israel. Ia memilih berangkat karena merasa memiliki kemampuan sebagai dokter bedah trauma yang dibutuhkan dalam keadaan darurat.
Selain memberikan pertolongan medis, ia ingin menyaksikan secara langsung keadaan di lapangan dan menceritakannya kepada masyarakat Amerika Serikat setelah pulang.
Sidhwa menggambarkan meninggalkan Gaza sebagai pengalaman emosional yang sangat berat. Menurutnya, tenaga medis asing dapat keluar dari wilayah tersebut, sementara pasien, anak-anak, dan keluarga mereka harus tetap bertahan dalam keadaan yang sulit.
Ribuan Pasien Disebut Memerlukan Evakuasi
Dalam wawancara itu, Thaer Ahmad menyebut data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengenai sekitar 18.000 orang yang memerlukan evakuasi medis mendesak dari Gaza. Mereka antara lain merupakan pasien kanker, penderita penyakit kronis, serta anak-anak yang membutuhkan perawatan lanjutan di luar wilayah tersebut.
Ahmad mengatakan bahwa sebelum Oktober 2023, sebagian pasien dari Gaza dapat menjalani pengobatan di rumah sakit yang berada di Yerusalem Timur atau Tepi Barat. Namun, akses tersebut kini sangat terbatas.
Ia juga menceritakan sejumlah upayanya untuk kembali mengikuti misi medis ke Gaza. Menurut Ahmad, dirinya telah lima kali ditolak masuk. Ia menduga penolakan itu berkaitan dengan latar belakang keluarganya sebagai warga Palestina.
Pernyataan mengenai alasan penolakan tersebut merupakan keterangan Ahmad dalam wawancara. Tidak ada tanggapan dari pemerintah atau militer Israel mengenai tuduhan itu yang ditampilkan dalam transkrip program.
Serangan terhadap Fasilitas Kesehatan Disorot
Salah satu perhatian utama dalam American Doctor adalah serangan yang mengenai rumah sakit dan kawasan di sekitarnya. Film ini menampilkan kesaksian dokter yang pernah bertugas di Kompleks Medis Nasser, Khan Younis.
Sidhwa mengatakan bahwa rumah sakit tersebut beberapa kali terkena serangan. Menurut kesaksiannya, sebagian ruang perawatan rusak sehingga jumlah tempat tidur yang tersedia semakin berkurang. Kerusakan itu terjadi ketika rumah sakit harus menerima banyak korban dan pasien dalam keadaan darurat.
Ia juga mengenang seorang remaja berusia 16 tahun yang sebelumnya telah menjalani operasi dan dinilai cukup pulih untuk meninggalkan rumah sakit. Remaja tersebut kemudian meninggal ketika serangan menghantam ruangan tempatnya dirawat.
Film itu juga menyinggung serangan di Rumah Sakit Nasser yang menewaskan sedikitnya 20 orang, termasuk lima jurnalis Palestina. Para narasumber menilai rangkaian serangan terhadap fasilitas kesehatan dan pekerja media perlu mendapat perhatian internasional.
Israel selama ini menyatakan bahwa operasi militernya ditujukan terhadap Hamas dan menuduh kelompok tersebut menggunakan fasilitas sipil bagi kepentingan militer. Akan tetapi, tanggapan khusus dari pihak Israel terhadap berbagai kesaksian dalam film American Doctor tidak terdapat dalam wawancara Democracy Now! yang menjadi bahan artikel ini.
Perekaman Dilakukan dalam Keadaan Berbahaya
Sutradara Poh Si Teng tidak dapat masuk ke Gaza untuk mengambil gambar secara langsung. Proses perekaman di dalam wilayah tersebut dilakukan dengan bantuan sinematografer Ibrahim Al-Otla dan produser Muhammad Sawwaf, serta sejumlah anggota tim yang bekerja dari berbagai negara.
Menurut Teng, kru lokal tetap bekerja meskipun menghadapi kekurangan makanan, ancaman keselamatan, dan risiko bagi keluarga mereka. Rekaman para pekerja film Palestina kemudian dipadukan dengan perjalanan dan kesaksian ketiga dokter Amerika Serikat.
Keinginan untuk membawa cerita tersebut kepada masyarakat Amerika menjadi salah satu alasan utama dokumenter ini diselesaikan. Para kru di Gaza berharap pengalaman tenaga medis, pasien, jurnalis, dan masyarakat setempat dapat dilihat oleh penonton yang lebih luas.
Teng mengatakan dirinya tertarik menggunakan pendekatan drama medis karena jenis tayangan tersebut telah lama dikenal masyarakat. Bedanya, keadaan yang ditampilkan dalam American Doctor bukan cerita rekaan, melainkan rekaman pengalaman para dokter di tengah perang.
Menjaga Perhatian Publik terhadap Krisis Kemanusiaan
Film ini tidak hanya membahas kegiatan di ruang perawatan. American Doctor juga memperlihatkan pergulatan batin para dokter setelah mereka kembali ke Amerika Serikat.
Sebagian dari mereka mempertanyakan keterlibatan pemerintah Amerika dalam konflik tersebut, terutama melalui dukungan persenjataan dan diplomatik kepada Israel. Mereka berharap masyarakat dapat mengetahui bagaimana keputusan politik berpengaruh terhadap kehidupan pasien dan tenaga kesehatan di Gaza.
Para pembuat film awalnya tidak yakin dokumenter ini akan diterima secara luas. Namun, film tersebut kemudian dijadwalkan tayang di puluhan bioskop di Amerika Serikat dan Kanada. Beberapa pemutaran awal di New York dilaporkan mendapat sambutan besar dari penonton.
Bagi Poh Si Teng, film ini merupakan cara untuk menjaga percakapan mengenai Gaza agar tidak menghilang dari perhatian publik. Ia berharap penonton tidak hanya melihat para dokter Amerika sebagai tokoh utama, tetapi juga memahami peran tenaga kesehatan, jurnalis, dan pekerja film Palestina yang bertahan di tengah keadaan berbahaya.
Pada akhirnya, American Doctor menyampaikan pesan sederhana mengenai pentingnya perlindungan terhadap rumah sakit, pasien, dan tenaga medis dalam peperangan. Di tengah perbedaan politik yang tajam, keselamatan warga sipil serta keberlangsungan pelayanan kesehatan tetap menjadi persoalan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian dunia.
Sumber: Wawancara Democracy Now! dengan sutradara Poh Si Teng serta dokter Thaer Ahmad dan Feroze Sidhwa, ditayangkan 14 Agustus 2026. Artikel ini disusun berdasarkan transkrip wawancara. Sejumlah data dan tuduhan di dalamnya merupakan keterangan narasumber dan pihak Palestina yang perlu dibaca sesuai konteks sumbernya.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!