BAPENA PPNI & DPD PPNI KABUPATEN KAPUAS GERAK CEPAT: BAGIKAN MASKER DAN EDUKASI MASYARAKAT TANGGULANGI DAMPAK ASAP KARHUTLA

Gambar
    KUALA KAPUAS – Menyikapi memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Badan Penanggulangan Bencana (BAPENA) PPNI bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PPNI Kabupaten Kapuas turun langsung ke tengah masyarakat melaksanakan kegiatan pembagian masker serta penyuluhan kesehatan pencegahan gangguan pernapasan, Sabtu, 19 September 2026.   Kegiatan ini menyasar wilayah-wilayah yang mencatat kualitas udara paling buruk, antara lain Kecamatan Selat, Sei Tatas, Melati, serta kawasan pemukiman padat lainnya. Ratusan masker telah dibagikan secara cuma-cuma kepada warga, mulai dari pedagang pasar, pelajar, hingga warga di lingkungan pemukiman.   Ketua BAPENA PPNI Kabupaten Kapuas, Muhammad Hipni, S.Kep., Ners., MH, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan respons cepat organisasi atas kondisi darurat lingkungan yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.   “Karhutla bukan sekadar ...

Kabulat Dulu dan Kini

"Huts for leprosy patients made from palm leaves, in Kwala Kapuas. See the publication 'Tat der Barmherzigkeit' [i.e. 'The Act of Mercy.']" (Courtesy of mission 21, evangelisches missionswerk basel)

Gambar diatas menunjukkan suasana Kabulat pada tahun 1941 dimana para penderita Lepra/Kusta yang berasal dari berbagai penjuru Kalimantan Tengah, diinapkan di tempat ini untuk menjalani terapi dari Rumah Sakit Hanggulan Sinta. Foto diatas merupakan bagian dari foto-foto Historical Photographs from the Basel Mission "S.E. Borneo. VI secular themes - religion, mission. Photographs from Dr Vischer."


Para pasien biasanya dirujuk oleh para pendeta yang tersebar di sepanjang sungai Kahayan dan Kapuas. Jadi para pasien ini banyak yang berasal dari sepanjang Sungai Kahayan dan Kapuas.


"Huts for leprosy patients made from palm leaves, in Kwala Kapuas. See the publication 'Tat der Barmherzigkeit' [i.e. 'The Act of Mercy.']" (Courtesy of mission 21, evangelisches missionswerk basel)
Gambar diatas menunjukkan bahwa rumah penderita lepra ini terbuat dari daun rumbia. Lokasi tempat inipun sangat terisolasi, tidak ada akses melalui jalan darat.


After his [sic] service with women suffering from leprosy, K. Kapuas, April 1956. (Courtesy of mission 21, evangelisches missionswerk basel) 

Para penderita mendapatkan kunjungan rutin dari petugas RS Hanggulan Sinta, sebagaimana ditunjukkan pada gambar diatas.


Bapak Ticek bersama cucu (Ibu Dewi) dan cicitnya (Riduan)

Setelah kepergian para misionaris, Kabulat dibina oleh Sawmill yang ada dibagian hulu dari kampung ini. Namun semenjak sawmill tersebut tutup, mereka tidak lagi mendapatkan pengayoman. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari mantan manajer sawmill tersebut Pemda masih memberikan santunan kepada 6 keluarga di Kabulat, tapi ketika ditanyakan kepada Bapak Ticek (gambar diatas), mereka tidak lagi menerima bantuan dari Pemda.

Pria kelahiran tahun 1918 ini bermohon agar Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas memberikan perhatian terhadap kondisi mereka terutama dari aspek perumahan. Memang rumah Bapak Ticek masih lebih baik dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain, sebagaimana kita lihat pada gambar-gambar dibawah ini:

Rumah Bapak Ticek

Rumah Bapak Ticek ini masih beratapkan sirap (terbuat dari kayu ulin), sedangkan rumah-rumah lain masih ada yang beratapkan rumbia sebagaimana tampak dalam gambar berikut ini:


Rumah mantan penderita lepra yang masih beratapkan rumbia
Bila ada yang ingin memesan atau mencetak gambar-gambar kuno diatas, dapat menghubungi:

mission 21
evangelisches missionswerk basel
Barbara Frey Näf
Missionsstrasse 21, CH-4003 Basel
Tel: +41 61 260 23 09; Fax: +41 61 260 22 68
eMail: barbara.frey@mission-21.org
http://www.mission-21.org/
http://www.bildungszentrum-21.ch/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)