Keamanan Pangan: Dimulai dari Dapur, Dijaga oleh Kita Semua

Gambar
  Makanan adalah kebutuhan paling dasar manusia. Setiap hari kita makan untuk mendapatkan energi, tumbuh, bekerja, belajar, dan menjaga kesehatan. Namun, makanan yang tampak enak dan mengenyangkan belum tentu aman. Bila makanan tercemar bakteri, virus, parasit, atau bahan kimia berbahaya, makanan tersebut justru dapat menjadi sumber penyakit. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengingatkan bahwa keamanan pangan, gizi, dan ketahanan pangan saling berkaitan erat. Artinya, makanan yang cukup saja belum cukup. Makanan juga harus bergizi dan aman dikonsumsi. Tanpa keamanan pangan, makanan dapat menyebabkan diare, keracunan, gangguan kesehatan jangka panjang, bahkan kematian. WHO memperkirakan sekitar 866 juta orang di dunia jatuh sakit setiap tahun setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, dan 1,52 juta orang meninggal dunia akibat masalah tersebut. Anak-anak di bawah usia lima tahun termasuk kelompok yang paling rentan. Mengapa Keamanan Pangan Penting? Keamanan pangan berar...

Kabulat Dulu dan Kini

"Huts for leprosy patients made from palm leaves, in Kwala Kapuas. See the publication 'Tat der Barmherzigkeit' [i.e. 'The Act of Mercy.']" (Courtesy of mission 21, evangelisches missionswerk basel)

Gambar diatas menunjukkan suasana Kabulat pada tahun 1941 dimana para penderita Lepra/Kusta yang berasal dari berbagai penjuru Kalimantan Tengah, diinapkan di tempat ini untuk menjalani terapi dari Rumah Sakit Hanggulan Sinta. Foto diatas merupakan bagian dari foto-foto Historical Photographs from the Basel Mission "S.E. Borneo. VI secular themes - religion, mission. Photographs from Dr Vischer."


Para pasien biasanya dirujuk oleh para pendeta yang tersebar di sepanjang sungai Kahayan dan Kapuas. Jadi para pasien ini banyak yang berasal dari sepanjang Sungai Kahayan dan Kapuas.


"Huts for leprosy patients made from palm leaves, in Kwala Kapuas. See the publication 'Tat der Barmherzigkeit' [i.e. 'The Act of Mercy.']" (Courtesy of mission 21, evangelisches missionswerk basel)
Gambar diatas menunjukkan bahwa rumah penderita lepra ini terbuat dari daun rumbia. Lokasi tempat inipun sangat terisolasi, tidak ada akses melalui jalan darat.


After his [sic] service with women suffering from leprosy, K. Kapuas, April 1956. (Courtesy of mission 21, evangelisches missionswerk basel

Para penderita mendapatkan kunjungan rutin dari petugas RS Hanggulan Sinta, sebagaimana ditunjukkan pada gambar diatas.


Bapak Ticek bersama cucu (Ibu Dewi) dan cicitnya (Riduan)

Setelah kepergian para misionaris, Kabulat dibina oleh Sawmill yang ada dibagian hulu dari kampung ini. Namun semenjak sawmill tersebut tutup, mereka tidak lagi mendapatkan pengayoman. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari mantan manajer sawmill tersebut Pemda masih memberikan santunan kepada 6 keluarga di Kabulat, tapi ketika ditanyakan kepada Bapak Ticek (gambar diatas), mereka tidak lagi menerima bantuan dari Pemda.

Pria kelahiran tahun 1918 ini bermohon agar Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas memberikan perhatian terhadap kondisi mereka terutama dari aspek perumahan. Memang rumah Bapak Ticek masih lebih baik dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain, sebagaimana kita lihat pada gambar-gambar dibawah ini:

Rumah Bapak Ticek

Rumah Bapak Ticek ini masih beratapkan sirap (terbuat dari kayu ulin), sedangkan rumah-rumah lain masih ada yang beratapkan rumbia sebagaimana tampak dalam gambar berikut ini:


Rumah mantan penderita lepra yang masih beratapkan rumbia
Bila ada yang ingin memesan atau mencetak gambar-gambar kuno diatas, dapat menghubungi:

mission 21
evangelisches missionswerk basel
Barbara Frey Näf
Missionsstrasse 21, CH-4003 Basel
Tel: +41 61 260 23 09; Fax: +41 61 260 22 68
eMail: barbara.frey@mission-21.org
http://www.mission-21.org/
http://www.bildungszentrum-21.ch/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas