Penutupan Festival Seni Qasidah (FSQ) II Kabupaten Kapuas

Gambar
Pada hari Sabtu, 22 Juni 2024 bertempat di Lapangan Bukit Ngalangkang dilakukan Penutupan Festival Seni Qasidah (FSQ) II Kabupaten Kapuas. Kegiatan ini diselenggarakan oleh LASQI Nusantara Jaya. Pesertanya berasal dari 17 Kecamatan se-Kabupaten Kapuas.

Berbincang-bincang dengan Bapak Muji (Koreografer Tari)

Koleksi foto Sanggar Tari Riak Nyalong
Bertempat di rumah betang, Bukit Ngalangkang, Kuala Kapuas, pada hari Jum'at, 24 September 2010 pukul 15.30 - 17.00 WIB, berlangsung bincang-bincang dengan Bapak Muji. Pembicaraan dimulai dengan Sanggar Tari Riak Nyalong, pengurus, para penari, jadual latihan, prestasi yang pernah diraih, baik tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional.

Setelah itu pembicaraan berlangsung lebih bebas. Beliau menceritakan pengalamannya ketika berkunjung ke pedalaman Kalimantan Tengah. Satu hal yang berkesan dari perjalanan itu adalah mengenai sikap hormat orang Dayak pedalaman terhadap orang Islam. Kalau mereka tahu bahwa tamu mereka adalah orang Islam, maka mereka akan menyediakan piring dan makanan yang berbeda dengan yang mereka makan. Selain itu dalam kunjungan tersebut beliau bisa mengenai berbagai kebiasaan menari di kalangan masyarakat Dayak pedalaman.


Beliau juga menceritakan tentang kurangnya pengetahuan masyarakat tentang biaya yang diperlukan untuk penampilan seni tari. Ketika beliau mengungkapkan biaya untuk tampil dalam sebuah acara yang singkat tampak besar dalam pandangan pengundang. Beliau lalu menjelaskan bahwa untuk tampil itu perlu perias, perlu kosmetik, perlu transport dan lain-lain. Setelah dijelaskan, barulan pihak pengundang mengerti mengapa biayanya menjadi tampak mahal.

Kisah menarik lain adalah ketika tampil dalam acara Natal, waktu itu beliau menggunakan alat musik gambus. Setelah tampil, beliau diprotes oleh pengundang, mengapa menampilkan alat musik yang bernuansa Islam. Waktu itu beliau kalah argumentasi. Setelah mempelajari literatur Kristen, beliau menemukan bahwa orang-orang Kristen dalam pestanya juga menggunakan gambus, rebana, rebab sebagai alat musik.

Beliau juga mengungkapkan mengenai kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap kesenian daerah ini. Beliau menginginkan bila selesai tampil dalam suatu festival yang berskala provinsi atau nasional, sebisa mungkin ada kegiatan evaluasi, sehingga bisa diketahui kekurangan yang harus diperbaiki untuk masa yang akan datang.

Komentar

  1. "..Ke daerah pedalaman Kalteng mana saja Mr,Muji menjajakkan kaki????
    Tentang Kisah di bawah ini sama sekali tidak benar..Kami dari pihak pribadi Sanggar tari Riak Nyalong tidak pernah sama sekali mengalami kejadian seperti terkisah di bawah...Lagi pula Mr.Muji bukanlah Koreografer tari,terutama di dalam kepengurusan Sanggar Tari Riak Nyalong!!
    Mr.Muji hanyalah pemain gendang pengganti dalam pemusik.Coba telaah kembali & cek secara benar,dalam mewawancarai seseorang..Terima kasih.." by.DeVa

    Kisah menarik lain adalah ketika tampil dalam acara Natal, waktu itu beliau menggunakan alat musik gambus. Setelah tampil, beliau diprotes oleh pengundang, mengapa menampilkan alat musik yang bernuansa Islam. Waktu itu beliau kalah argumentasi. Setelah mempelajari literatur Kristen, beliau menemukan bahwa orang-orang Kristen dalam pestanya juga menggunakan gambus, rebana, rebab sebagai alat musik.

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas informasi dan koreksinya, kalau boleh, bisa nggak kami ngobrol sama Putra Tentara Lawung (DeVa)

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Laki-laki adalah "qawwam" bagi perempuan