Dari Rotan Berduri Menjadi Tikar Bernilai Jual
Pada Minggu, 2 Agustus 2026, saat melintasi RT 2 Desa Sei Kayu yang berada di tepian Sungai Kapuas, saya melihat seorang pria sedang sibuk membersihkan beberapa batang rotan. Pemandangan tersebut menarik perhatian saya. Saya pun memarkirkan sepeda motor dan menghampirinya. Setelah saling menyapa, percakapan kami berkembang mengenai proses pengolahan rotan hingga menjadi bahan baku tikar anyaman. Di tangan masyarakat setempat, rotan berduri yang tumbuh liar menjulang di antara pepohonan ternyata dapat diolah menjadi barang yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Bapak tersebut bercerita bahwa rotan yang sedang dibersihkannya berasal dari kebun karet yang juga ditanami rotan. Tanaman itu diperkirakan telah berusia sekitar sepuluh tahun. Rotan dikenal memiliki banyak duri sehingga tidak mudah untuk ditarik dan dipanen. Menurutnya, sebelum menarik rotan, duri-duri pada bagian batang yang akan dipegang harus dibersihkan terlebih dahulu. Setelah bagian tersebut aman, barulah rotan dapat...
Sayang ya, padahal menurut cerita bapak saya Eko Sudihanto, dulu ketika bapak menjadi salah seorang guru perdana di sekolah ini sering bercerita, betapa sekolah ini menjadi sekolah yang dibanggakannya dan dicari oleh siswa hingga saat itu sekolah dikirimi siswa dari luar Kapuas.
BalasHapusBapakku cerita bahwa saat dikirim ke Kapuas beliau harus mengajar dengan menjinjing sepatunya untuk dapat sampai ke tempat mengajarnya. Bagaimana saat sekolah ini masih separuh badan, sampai saatnya menerima angkatan pertama, kemudian ikut bertanding lomba dan selalu menang dan menjadi sekolah yang disegani sekolah lain. Terus bagaimana beliau dengan kawan-kawan yang dikirim dari jawa sebagai guru babad alas dan memiliki keinginan besaar untuk mengabdi dan menjadikan sekolah ini nomor satu. Begitu juga saat beliau pergi dengan berat hati tetapi tetap yakin bahwa sekolah ini akan menjadi sekolah besar di Kalimantan Tengah di masa datang.
Saat inipun kalau bercerita tetap bahwa betapa susah waktu itu, tetapi menjadi cerita hidup dari kehidupan yang tidak akan pernah terlupakan sebagai seorang umar bakri yang pernah berjuang di daerah hutan saat itu.
Semoga SMKN 3 Kuala Kapuas dapat bangkit lagi, menata dan mengelola diri mengembalikan kejayaan masa dulu bersama orang-orang saat ini, seperti bapakku yang diusianya kini tetap terus berangkat pagi tak jarang pula subuh, pulang telah larut ikut mengelola SMK Negeri 2 Subang bersama teman-teman seperjuangannya dari Kuala Kapuas dengan cita-cita luhur yang sama. Semoga... Salam kami untuk bapak dan ibu kami yang berjuang saat ini di Kuala Kapuas, dari putera-putera bapak kami. Selamat berjuang, ubahlah kembali SMKN 3 Kuala Kapuas menjadi sekolah termaju.