Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Sekelumit tentang Family Health and Nutritiion Project

(With courtesy from Asian Development Bank)
Dari Desa Tajepan, di desa pedalaman Provinsi Kalimantan Tengah, Sungai Kapuas memberi kehidupan dan mata pencaharian - sebagaimana juga menyebabkan kematian dan penyakit.

Buruh tani dan nelayan, tinggal di rumah sederhana di tepi sungai, mengandalkan sungai sebagai penghasilan dan nafkah. Mereka menggunakan sungai untuk mencuci baju dan piring, mandi, dan minum. Tetapi sungai juga digunakan untuk buang air besar dan tempat pembuangan sampah.

"Saya sudah tahan terhadap berbagai masalah yang berasal dari air sungai" ungkap Basrah, yang tinggal bersama keluarganya diatas rumah kayu diatas sungai. Dibelakang rumahnya ada tempat di pinggir sungai dimana dia mengumpulkan semua air untuk minum dan mencuci. Tepat diatasnya ada WC cemplung dengan lubang kecil yang dibawahnya mengalir air sungai yang berwarna coklat.

Berumur sekitar 30 tahun - dia tidak tahu berapa tepatnya umurnya - dia memiliki enam orang anak, yang nomor dua meninggal waktu kecil karena diare. tetapi dia tidak menghubungkan kematian tersebut dengan sumber air yang terkontaminasi.

"Ini bukan kesalahan air sungai, ini hanya karena musim diare - hampir setiap orang terkena penyakit tersebut," katanya.

Mengubah perilaku yang sudah mendarah daging dan tidak sehat tersebut, yang memiliki dampak yang besar terhadap kesehatan bayi dan anak, merupakan suatu proses yang lambat di daerah pedesaan dimana kemiskinan, ketidaktahuan, dan keterpencilan membentuk penghalan terhadap kesehatan dan gizi keluarga. 

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan meng-klik sumber dibawah ini:

Sumber: Asian Development Bank, ADB Rreview

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"