Islam dan Perbudakan: Memahami Sejarah, Jalan Pembebasan, dan Martabat Manusia

Gambar
  Perbudakan merupakan salah satu bagian paling kelam dalam sejarah umat manusia. Ketika mendengar istilah tersebut, banyak orang langsung membayangkan perdagangan manusia, kerja paksa, kekerasan, pemisahan keluarga, serta perlakuan kejam berdasarkan warna kulit. Gambaran itu bukan tanpa alasan. Dalam sejarah modern, perdagangan budak lintas Atlantik telah meninggalkan luka yang sangat dalam. Jutaan orang Afrika dirampas kebebasannya, dipindahkan secara paksa, dan diperlakukan sebagai barang milik. Namun, perbudakan sebenarnya telah dikenal jauh sebelum masa itu dan pernah dipraktikkan oleh hampir semua peradaban besar. Dalam ceramah berjudul The Islamic Response to Slavery , Syekh Mohammad Elshinawy dari Yaqeen Institute mengajak masyarakat memahami persoalan tersebut berdasarkan konteks sejarah. Menurutnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya apakah perbudakan pernah ada di tengah masyarakat Muslim, tetapi juga bagaimana ajaran Islam mengatur, membatasi, dan membuka jalan ...

Huma Hai (Rumah Besar) Loendjoe

Rumah besar yang didirikan pada tahun 1907 ini terletak di Desa Saka Tampak, Kecamatan Kapuas Barat. Rumah ini letaknya tidak jauh dari pelabuhan Mandomai (kearah hulu). Rumah yang terletak di tepi Sungai Kapuas ini dibangun dengan tiang-tiang yang terbuat dari kayu Ulin. Rumah ini terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga dan dapur.
Ruang tamu
Ukuran dari masing-masing ruangan cukup besar. Sebagaimana rumah besar yang lain, rumah ini dibangun tanpa paku, mereka menggunakan pasak yang terbuat dari kayu. Untuk pintunya pun mereka tidak menggunakan engsel, mereka menggunakan penopang dari kayu Ulin. Di jendelanya pun, selain ada jendela juga ada teralis yang terbuat dari kayu, sehingga penghuni rumah ini mengistilahkan mereka seperti berada dalam penjara.

Loendjoe
Rumah ini didirikan oleh Bapak Loendjoe. Beliau mengajak saudara-saudaranya untuk tinggal di rumah ini.
Bapak Sinto dan Ibu Amelia
Salah satu dari saudaranya yang tinggal di rumah ini adalah Bapak Sinto bersama dengan istrinya, Ibu Amelia. Selain itu juga ada saudara mereka yang lain yang tinggal di rumah ini. Mereka semua tinggal di ruang tengah yang cukup lebar, hanya dibatasi oleh kelambu untuk masing-masing keluarga.

Berbeda dengan rumah betang yang terletak di Desa Buntoi, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau yang memiliki koleksi belanga dan gong, rumah ini tidak memiliki benda-benda kuno. Ketika ditanyakan kepada penghuni rumah, mereka mengatakan bahwa dulunya benda-benda kuno tersebut ada di rumah tersebut, tapi karena keluarga-keluarga yang pernah tinggal di rumah ini pergi, mereka membawa serta benda-benda kuno tersebut.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah telah menjadikan rumah ini sebagai salah satu dari dua Benda Cagar Alam dan Situs Bersejarah di Kabupaten Kapuas. Menurut keterangan dari penghuninya, rumah ini sudah dua kali mendapatkan bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah untuk perbaikan atapnya. Saat ini mereka sangat membutuhkan bantuan untuk perbaikan dapur.
Dapur
Sebenarnya ukuran dapur ini sangat besar yaitu 12 x 8 meter persegi, tapi karena tidak ada dana untuk memperbaikinya, akhirnya sebagian besar lantai sudah rusak, meskipun tiang ulinnya masih ada. Yang tampak diatas adalah bagian yang masih tersisa. Mudah-mudahan Pemerintah Kabupaten Kapuas dapat memberikan bantuan untuk dapat memperbaiki Benda Cagar Budaya dan Situs Bersejarah ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)