Film Dokumenter American Doctor Rekam Perjuangan Tenaga Medis di Tengah Krisis Gaza

Gambar
INFORMASI KAPUAS – Sebuah film dokumenter baru berjudul American Doctor mengangkat perjuangan para dokter yang bekerja di tengah rusaknya layanan kesehatan dan membeludaknya jumlah pasien di Jalur Gaza. Film tersebut mengikuti perjalanan tiga dokter asal Amerika Serikat yang menjadi sukarelawan di sejumlah rumah sakit di wilayah itu. Dokumenter ini menampilkan dokter bedah ortopedi Mark Perlmutter dari Carolina Utara, dokter bedah trauma Feroze Sidhwa dari California, serta dokter instalasi gawat darurat Thaer Ahmad dari Chicago. Ahmad merupakan seorang warga Amerika keturunan Palestina. Dalam wawancara bersama program berita Democracy Now! , sutradara film American Doctor , Poh Si Teng, menjelaskan bahwa film tersebut dibuat untuk memperlihatkan dampak perang melalui sudut pandang tenaga kesehatan. Film itu juga merekam kegiatan staf medis Palestina yang tetap merawat pasien dalam keadaan serba terbatas. Menurut pejabat Palestina sebagaimana dikutip dalam program tersebut, sekitar 1...

Bincang-bincang dengan Bapak Dahlan Jambek tentang REDD+

Setelah membaca artikel Mantir Adat Dukung Keberadaan REDD+ yang dimuat di situs Pemda Kapuas, yang membantah pernyataan sebagian mantir adat yang dimuat dalam artikel “Stop the Indonesia-Australia REDD+ project”: Indigenous Peoples’ opposition to the Kalimantan Forests and Climate Partnership, admin meminta bantuan dari Bapak M. Ersah (warga Mantangai) untuk dihubungkan dengan pejabat yang berada di wilayah kerja REDD+ di Mantangai. Beliau memberikan nomor Bapak Dahlan Jambek, Kepala Desa Mantangai Hulu. Setelah dihubungi, admin menanyakan beberapa hal sehubungan dengan pernyataan ketidaksetujuan diatas. Beliau menjelaskan bahwa tidak semua pernyataan yang disampaikan tersebut benar, bahkan menurut informasi yang beliau dapatkan, pernyataan diatas justru tidak sepenuhnya diketahui oleh para demang tersebut. Mengenai warga yang dikatakan tidak memahami mengenai proyek ini, beliau menjelaskan bahwa pertemuan dengan masyarakat diselenggarakan satu bulan sekali. Cuma memang kendalanya adalah bagaimana mencari bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat. Karena masyarakat tidak mengenal istilah pengurangan "emisi karbon" dan istilah-istilah lainnya. Beliau sudah menyarankan kepada pihak KFCP untuk mempermudah bahasa yang digunakan kepada masyarakat. 


Dalam waktu dekat ini di wilayah Desa Mantangai Hulu, sudah mulai diselenggarakan kegiatan penghijauan. Dana yang diperlukan untuk kegiatan tersebut akan dikirimkan langsung kepada penanggung jawab kegiatan. Semoga kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)