The Salahuddin Generation (Ep. 11): Salahuddin’s Legacy — Warisan Terbesar Bukan Tahta, Bukan Kota, Bahkan Bukan Yerusalem

Gambar
Ia mengalahkan para raja. Ia membebaskan Yerusalem. Ia mematahkan Perang Salib Ketiga. Tetapi pada akhirnya—apa yang paling ia takutkan? Apa yang paling ia rindukan? Dan apa yang paling ia titipkan? Episode penutup ini menjawab dengan kalimat yang menohok: yang paling besar dalam pandangan Salahuddin bukanlah kota, bukan kejayaan, bahkan bukan Yerusalem sebagai “trofi” sejarah. Yang paling besar adalah Allah , dan segala yang selain-Nya hanyalah jalan. 1) Mars Terakhir Menuju Yerusalem: “Tidak Ada Lagi yang Datang Menolong” Setelah bertahun-tahun perang, pasukan Frank akhirnya mencoba mengambil “hadiah utama”: Yerusalem . Salahuddin tahu, ini bukan sekadar pertempuran biasa. Maka ia mengumpulkan tentara dan berkata tegas: kalian adalah tentara Islam hari ini, darah, harta, dan keluarga kaum Muslim bergantung pada kalian, tidak ada Muslim lain yang akan datang menolong, ini amanah yang Allah letakkan di pundak kalian. Pidato ini bukan untuk membakar emosi semata, t...

Tarawih ditunda menunggu pengumuman 1 Syawal

Selepas shalat Isya berjama'ah di Langgar Inayah, Jalan Kapten Pierre Tendean Gg. IXa, kaum langgar mengumumkan bahwa shalat tarawih ditunda dulu menunggu pengumuman resmi dari pemerintah tentang kepastian 1 Syawal 1432 H.

Dalam rangka mengantisipasi jatuhnya 1 Syawal pada hari Selasa, pengurus Langgar Inayah mengambil inisiatif untuk mulai mengumpulkan zakat fitrah sejak pagi hari tanggal 29 Agustus 2011 sampai malam harinya. Pembagian zakat fitrah pun sudah dilakukan sejak sesudah shalat Maghrib.

Sedangkan Langgar Mupakat yang terletak di depan Kuburan Muslim, di Jalan Ahmad Yani, Kuala Kapuas, setelah pemerintah mengumumkan 1 Syawal pada hari Rabu, 31 Agustus 2011, mereka langsung melaksanakan shalat tarawih yang tertunda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas