Usaha Mencari Peta Virtual Background: Saat GIS Kalteng “Diuji” dengan Google Maps

Gambar
Perbandingan tampilan Sei Pinang di dua platform: citra satelit pada Google Maps (kiri) dan Peta GIS Kalteng (kanan) relatif sama-sama belum detail. Perbedaannya, Google Maps menampilkan lebih banyak titik lokasi/nama tempat (POI) yang ditambahkan komunitas seperti Local Guides, sehingga orientasi lokasi terasa lebih mudah. Pada hari Sabtu, 31 Januari 2026 , saya mencoba mencari peta Kalimantan Tengah yang menarik untuk dijadikan virtual background saat rapat daring menggunakan Jitsi Meet . Saya lalu meminta bantuan Copilot (AI milik Microsoft). Copilot kemudian merekomendasikan sebuah situs pemetaan milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah: Peta GIS Kalteng ( https://peta.simtaru.kalteng.go.id/ ). Awalnya saya cukup terkesan. Ketika saya mengarahkan peta ke wilayah Kuala Kapuas , tampilannya terlihat rapi dan informatif. Dari situ muncul rasa penasaran: kalau di ibu kota kabupaten terlihat lumayan detail, apakah wilayah yang lebih jauh seperti Sei Pinang (ibu kota Kecamatan Se...

Rizal Fountain

Rizal Fountain
Berikut ini adalah terjemahan dari tulisan yang terdapat di Rizal Fountain di Rizal Park, Roxas Boulevard, City of Manila, Filipina:

Kran ini, pada mulanya berada di desa Wilhelmsfeld, Heidelburg, Jerman. Dr. Jose Rizal sering minum dari kran ini, selama beliau tinggal di kota Universitas Jerman, selama musim panas tahun 1886. Dr. Joze Rizal bekerja sebagai asisten dokter, dibawah bimbingan Prof. Dr. Otto Becker di rumah sakit di Heidelburg. Di Wilhemsfeld, Rizal merayakan ulang tahunnya yang ke-25 dan juga menulis bagian akhir dari novelnya “Noli Me Tangere”. Inilah mengapa Wilhelmsfeld sekarang dikenal sebagai “Desa Noli”.

Pancuran ini berada di halaman rumah batu tua, dimana Rizal tinggal sebagai tamu dari teman baiknya Pastor Karl Ullmer. Tahun 1964, penghuni rumah bersejarah tersebut, Pastor Gottlob Weber, memulai pergerakan, bersama dengan Minister Pura Santillan Castrence dan Free Press Staff Artist dan Rizalist Gene Carrera, to meminta pancuran tua tersebut disumbangkan ke Filipina.

Tanggal 30 Desember 1964, saat ulang tahun gugurnya Rizal, pancuran secara resmi diserahkan kepada pemerintah Filipina oleh duta besar Jerman Johann Karl Von Stechow didampingi oleh Sekretaris Menteri Luar Negeri Mauro Mendez.

Relik dari Jerman dibangun disini di Luneta, sebagai “Rizal Fountain”, hadiah dari pemerintah federal Jerman kepada rakyat Filipina, sebagai bukti dari persahabatan kedua negara.

Tahun 1994, renovasi besar-besaran dilakukan melalui sumbangan dari Sir Hans Schooe Koor Supreme Enchequer Order dari Ksatria Rizal, dengan Engr. Edmund M. Tolentino, kemudian Direktur Komite Eksekutif dari Pengembangan Taman Nasional juga memberikan bantuan.


Proyek perbaikan adalah bagian dari visi Presiden Filipina Fidel V. Ramos tahun 2000, yaitu lingkungan yang bersih, hijau dan seimbang secara ekologi. Mantan presiden Fidel V. Ramos, melakukan upacara peresmian kembali pada tanggal 30 Desember 1994.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas