Ketika Membaca Al-Qur’an, Pertanyaan Terpenting Adalah: Apakah Saya Juga Melakukannya?

Gambar
  Ada ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca sebagai kisah masa lalu. Kita merasa sedang membaca sejarah tentang orang-orang terdahulu: Fir‘aun, Qarun, kaum ‘Ad, kaum Tsamud, atau Bani Israil. Tetapi semakin kita merenung, semakin terasa bahwa Al-Qur’an tidak hanya sedang mengajak kita menengok masa lalu. Al-Qur’an sedang menghadapkan cermin ke wajah kita sendiri. Salah satu ayat yang sangat kuat untuk direnungkan adalah firman Allah dalam Surah Al-Qashash ayat 4: “Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Ia menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sungguh, ia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” Ayat ini menceritakan kekejaman Fir‘aun terhadap Bani Israil. Tetapi bila kita berhenti hanya pada sejarahnya, kita mungkin kehilangan pesan terdalamnya. Sebab Al-Qur’an tidak hanya memperkenalkan nama Fir‘aun sebagai tokoh masa lalu, tetapi juga me...

Santri Ponpes Al-Amin Membuat Telur Asin

Menakar jumlah tanah liat
Garam dimasukkan ke tanah liat
Pada hari Minggu, 22 Februari 2015, santri pondok pesantren Al-Amin Kapuas membuat telur asin. Prosesnya dimulai dengan menakar tanah liat yang akan ditambahi dengan garam. Satu gayung tanah liat yang berasal dari batu bata yang dihancurkan dicampur dengan satu bungkus garam (250 gram).
Mencampur tanah liat dengan garam

Mencuci telur itik
Tanah liat dan garam dicampur secara merata, sehingga menyatu antara tanah liat dan garam. Pada saat yang sama ada santri yang bertugas untuk mencuci telur itik sampai bersih. Telur yang sudah bersih tersebut dibungkus dengan tanah liat yang sudah dicampur dengan garam.
Membungkus telur dengan tanah liat plus garam

Telur yang sudah dibungkus
Telur yang sudah dibungkus dengan tanah liat yang mengandung garam tersebut akan disimpan selama satu minggu sebelum dibersihkan lagi. Bila telurnya tidak ada masalah saat dibungkus dengan tanah liat plus garam, telur asin ini bisa tahan selama satu bulan. Saat ini pondok pesantren hanya memproduksi telur asin sebanyak lima rak seminggu. Hal ini dikarenakan terbatasnya waktu para santri untuk membuat telur asin ini. Selain itu juga masalah pemasaran. Saat ini dua rak dijual ke Kuala Kapuas, sisanya dijual kepada para pedagang di Pasar Palingkau. Penjualan telur asin di Kuala Kapuas terbanyak justru di rumah sakit, karena ada salah satu pedagang yang membawa telur tersebut untuk dijual di rumah sakit. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)