Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

Restoran Sawah Buli Lewu

Meja makan di Restoran Sawah Buli Lewu
Saat ditanyakan kepada Ibu Ida Lampang, pengelola restoran yang terletak di Jalan Jepang, Kuala Kapuas ini, mengapa dinamakan Buli Lewu (pulang kampung). Beliau menjelaskan bahwa restoran ini dibangun dilokasi yang mirip suasana kampung, demikian juga dengan desain dari bangunannya dimana seliruhnya menggunakan kayu dan beratap rumbia. Restoran ini juga menyajikan makanan khas dayak. Bila rombongan ingin makan di restoran ini diharapkan untuk dapat memesan terlebih dahulu pada nomor HP 0853 9182 0778.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas