Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

Berani mengambil risiko


Saat melihat ada sarang laba-laba di pohon Rambutan, saya sangat kagum. Berarti laba-laba ini sudah memperhitungkan keregangan / kelenturan dari jaring laba-labanya untuk bisa mengakomodir tiupan angin pada ranting-ranting pohon rambutan. Sarang ini tentu akan menjadi sangat dinamis karena akan bergoyang-goyang sepanjang siang dan malam.

Sarang laba-laba yang ada di dekat dapur rumah pun sangat berisiko karena dia meletakkan jaringnya di tali plastik yang biasa digunakan untuk jemuran pakaian. Jadi terkadang jaringnya akan teregang, dan kadang-kadang kendor.

Inilah kehidupan, agar dapat makan, risiko harus diambil.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas