The Salahuddin Generation (Ep. 7): — “Makam Nabi ﷺ Hampir Digali”: Saat Pilar Kepemimpinan Runtuh, Umat Terbelah… Lalu Disatukan oleh Ancaman yang Tak Terbayangkan

Gambar
 Ketika Nur ad-Din Zengi wafat, umat tidak hanya kehilangan seorang pemimpin—umat kehilangan paku penyangga yang menjaga persatuan. Dalam kekosongan itu, yang muncul bukan ketenangan, tetapi ketakutan, propaganda, transaksi harga diri , dan pecahnya loyalitas kota-kota Muslim. Namun episode ini menunjukkan satu ironi sejarah: ancaman paling keji justru menjadi pemantik persatuan terbesar. Sebab ketika sebuah rencana “mustahil” muncul—menggali makam Rasulullah ﷺ—dunia Islam tersadar: kalau bukan sekarang bersatu, kapan lagi? Ringkasan Per Segmen (dengan penanda waktu) 1) Wafatnya Nur ad-Din: Salahuddin Shock, Lalu Mengirim “Surat Persatuan” (0:00–3:52) Kabar wafat Nur ad-Din justru datang dari musuh. Salahuddin terguncang: Kalau benar wafat, mengapa ia tidak mendengar dari kaum Muslimin? Apakah ini rumor, tipu daya, atau tanda masalah besar? Respons Salahuddin bukan panik—tapi cepat dan terukur : ia mengirim surat ke kota-kota Syam, menekankan bahwa saat musibah jus...

Shalat Jum'at di Masjid Riyadhul Jannah



Video ini direkam pada hari Jum'at, 9 September 2011 di Masjid Riyadhul Jannah. Dalam khutbah Jum'at-nya khatib menyampaikan tentang masalah takbir. Kalimat takbir tidak terpisah dari tauhid. Seseorang belum dikatakan beriman sebelum dia mengakui kebesaran Allah. Dalam sehari semalam kita mengucapkan takbir sebanyak minimal 83 kali. Kalimat takbir banyak mengandung hikmah. Hikmah takbir:

  1. Mensyukuri nikmat Allah SWT, sebagaimana yang kita kumandangkan pada waktu Idul Fitri. 
  2. Mengingat Allah SWT. Allah akan memberkahi dan memberi ketenangan dalam hidup kita. 
  3. Memperoleh semangat dalam perjuangan di jalan Allah. 
  4. Mengakui kebesaran Allah SWT. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas