The Salahuddin Generation (Ep. 7): — “Makam Nabi ﷺ Hampir Digali”: Saat Pilar Kepemimpinan Runtuh, Umat Terbelah… Lalu Disatukan oleh Ancaman yang Tak Terbayangkan

Gambar
 Ketika Nur ad-Din Zengi wafat, umat tidak hanya kehilangan seorang pemimpin—umat kehilangan paku penyangga yang menjaga persatuan. Dalam kekosongan itu, yang muncul bukan ketenangan, tetapi ketakutan, propaganda, transaksi harga diri , dan pecahnya loyalitas kota-kota Muslim. Namun episode ini menunjukkan satu ironi sejarah: ancaman paling keji justru menjadi pemantik persatuan terbesar. Sebab ketika sebuah rencana “mustahil” muncul—menggali makam Rasulullah ﷺ—dunia Islam tersadar: kalau bukan sekarang bersatu, kapan lagi? Ringkasan Per Segmen (dengan penanda waktu) 1) Wafatnya Nur ad-Din: Salahuddin Shock, Lalu Mengirim “Surat Persatuan” (0:00–3:52) Kabar wafat Nur ad-Din justru datang dari musuh. Salahuddin terguncang: Kalau benar wafat, mengapa ia tidak mendengar dari kaum Muslimin? Apakah ini rumor, tipu daya, atau tanda masalah besar? Respons Salahuddin bukan panik—tapi cepat dan terukur : ia mengirim surat ke kota-kota Syam, menekankan bahwa saat musibah jus...

Farewel Party for Sergio

Sergio dan Sylvia menikmati hidangan di Terusan Raya
Project Officer dari Spanish Red Cross Sergio Garcia, berakhir masa tugasnya pada akhir Maret 2013. Dalam kunjungan serah terima dari tanggal 21-23 Maret 2013 di Kapuas, beliau menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan pelatihan di Terusan Raya, Kecamatan Bataguh.

Pada waktu istirahat siang para fasilitator dan peserta pelatihan serta peninjau makan siang di rumah ibu Ningsih. Pada saat makan siang tersebut ada yang bilang bahwa ini adalah acara perpisahan dengan Sergio.

Sewaktu ijin pulang ke Kapuas, seorang ibu bilang kepada Sergio agar tidak melupakan kampung mereka. Sergio menjawab bahwa dia tidak akan melupakan kampung ini (Terusan Raya).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas