Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

 


(Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas)

Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil?

Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka. Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama: adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga?

Berikut rangkuman gagasan kunci dari transkrip tersebut, dengan bahasa yang mudah, sekaligus usulan penerapannya untuk Kabupaten Kapuas.


Mengapa “imajinasi” penting dalam adaptasi iklim?

Selama ini, adaptasi sering dipahami sebagai “mengurangi risiko”: membangun tanggul, memperlebar drainase, memasang pompa, membuat embung, dan seterusnya. Itu penting, tapi tidak cukup.

Tim IMAGINE Adaptation menjelaskan: kita hanya bisa menilai keberhasilan adaptasi jika kita paham dulu apa yang dianggap “berhasil” oleh masyarakat setempat. Karena tiap tempat punya konteks berbeda. Gelombang panas di Lima tidak sama dampaknya dengan gelombang panas di London. Begitu juga banjir di kota pesisir berbeda dengan banjir di wilayah sungai dan rawa.

Mereka menemukan tiga “batas” yang sering membuat adaptasi jadi sempit:

  1. Menganggap masalah dan solusinya universal
    Padahal kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan geografi tiap daerah berbeda.

  2. Terlalu mengutamakan pengetahuan teknis
    Keputusan sering didominasi perspektif “ahli”, sementara pengalaman warga dan pengetahuan lokal kurang dihargai.

  3. Menyederhanakan adaptasi seolah ada solusi tunggal
    Padahal iklim dan kota berubah terus. Adaptasi perlu diuji, dievaluasi, diperbaiki—dan itu membutuhkan pembelajaran berkelanjutan.

Intinya: adaptasi bukan proyek sekali jadi. Ia adalah proses yang harus terus belajar.


Adaptasi itu bukan hanya soal “mengurangi risiko”, tapi juga soal keadilan

Salah satu narasumber menekankan bahwa cara kita memandang adaptasi akan menentukan:

  • apa yang diprioritaskan,

  • siapa yang dilibatkan,

  • dan bagaimana keberhasilan diukur.

Selama ini, adaptasi sering dinilai dari “apakah target terpenuhi?”. Masalahnya: siapa yang menentukan target itu? Apakah target tersebut benar-benar menjawab kebutuhan warga, terutama kelompok rentan?

Karena fokus pada hal yang “mudah diukur”, kita sering:

  • mengejar hasil jangka pendek,

  • menonjolkan solusi teknis,

  • mengabaikan aspek sosial dan politik,

  • dan lupa pada dampak terhadap kesetaraan.

Proyek IMAGINE Adaptation menawarkan kerangka pikir: adaptasi perlu menggabungkan pengurangan risiko + pembangunan manusia + keadilan, agar masyarakat bisa hidup baik dalam iklim yang berubah.


“Adaptation imaginaries”: ada banyak cara membayangkan adaptasi

Dalam riset lain, tim ini melibatkan puluhan aktor adaptasi dari banyak negara dan menemukan bahwa adaptasi tidak dibayangkan dengan satu cara saja. Ada setidaknya empat gambaran besar (imajinasi) yang sering muncul:

  1. Green utopia
    Adaptasi lewat solusi berbasis alam: ruang hijau, pepohonan, restorasi ekosistem.

  2. Sustainable lifestyles
    Fokus pada gaya hidup berkelanjutan: retrofit bangunan, pengurangan limbah, ekonomi sirkular.

  3. Climate preparedness
    Penekanan pada kesiapsiagaan: ruang perlindungan, gotong royong, latihan tanggap darurat.

  4. Top-down & technology-driven
    Adaptasi dipimpin ahli dan teknologi: sistem canggih, pemantauan digital, pendekatan komando.

Tidak ada yang sepenuhnya “salah”. Namun masalah muncul jika hanya satu imajinasi yang dominan, sementara suara lain—terutama warga rentan—tidak masuk.

Menariknya, mereka memakai ilustrasi untuk membantu orang membayangkan masa depan. Kadang kata-kata membatasi, sementara gambar membuka dialog: “Oh, kalau begini, dampaknya apa? Siapa yang diuntungkan? Siapa yang terbebani?”


Adaptasi sehari-hari: kecil, tapi nyata—dan sering tidak terlihat

Bagian yang sangat relevan bagi kita adalah konsep everyday adaptations:
tindakan kecil yang dilakukan warga untuk menyesuaikan diri terhadap iklim, misalnya:

  • membantu tetangga lansia saat hari panas,

  • mengubah jam aktivitas agar tidak terpapar panas ekstrem,

  • membuat penghalang sederhana saat banjir,

  • saling bantu pascabanjir lewat jaringan sosial.

Masalahnya, tindakan seperti ini sering “tidak masuk” dalam laporan besar dan debat global, karena perhatian lebih condong pada proyek besar dan kebijakan formal.

Padahal, ketika tindakan-tindakan kecil itu tidak diberi nama, ia tidak terlihat—dan akhirnya tidak didukung.


Tantangan besar: bagaimana mengukur adaptasi dengan adil?

Tim IMAGINE Adaptation menyoroti bahwa banyak indikator adaptasi saat ini:

  • fokus pada output jangka pendek,

  • lemah kaitannya dengan pengambilan keputusan nyata,

  • dan kurang menangkap perubahan jangka panjang serta keadilan sosial.

Monitoring dan evaluasi (mereka menyebutnya MERL: Monitoring, Evaluation, Reporting, and Learning) bukan sekadar soal angka. MERL adalah arena tempat kita “berunding” tentang:

  • adaptasi itu apa,

  • pengetahuan siapa yang diakui,

  • dan seperti apa sukses itu.

Mereka menemukan praktik terbaik justru yang menggabungkan data teknis dan pengalaman lokal, lewat proses bottom-up dan top-down yang saling menguatkan.


Bagaimana menerapkan gagasan ini untuk Kabupaten Kapuas?

Kabupaten Kapuas punya karakter khas: daerah sungai, rawa, permukiman yang beragam, akses antarwilayah yang tidak selalu mudah, serta budaya gotong royong yang kuat. Perubahan iklim bisa muncul dalam bentuk:

  • banjir yang lebih sering/lebih lama,

  • musim yang bergeser (berdampak pada pertanian, penyakit, dan ekonomi),

  • suhu yang meningkat (berdampak pada kesehatan, produktivitas, lansia, dan anak),

  • kualitas air yang berubah.

Berikut cara menerapkan konsep “membayangkan adaptasi bersama” ala IMAGINE Adaptation—dengan pendekatan yang realistis untuk Kapuas.

1) Mulai dari pertanyaan: “Adaptasi yang berhasil itu seperti apa menurut warga Kapuas?”

Alih-alih langsung menentukan program dari atas, coba buka ruang dialog sederhana di tingkat:

  • desa/kelurahan,

  • sekolah,

  • puskesmas,

  • kelompok tani/nelayan,

  • komunitas perempuan dan pemuda.

Tujuannya: menyepakati gambaran “Kapuas yang tahan iklim” versi warga.
Contoh pertanyaan pemantik:

  • Saat banjir, apa yang paling menyulitkan? (akses, ekonomi, kesehatan, sekolah?)

  • Siapa yang paling terdampak? (lansia, ibu hamil, anak, difabel?)

  • Kalau adaptasi berhasil, perubahan apa yang paling terasa dalam 1–2 tahun?

Hasilnya bukan laporan tebal, cukup “peta kebutuhan dan harapan” yang disepakati bersama.

2) Gunakan metode kreatif yang sederhana, murah, tapi kuat

Tidak harus rumit. Anda bisa meniru pendekatan ilustrasi/partisipatif dengan versi lokal Kapuas:

  • peta partisipatif: warga menandai titik banjir, jalur evakuasi, lokasi rentan (sekolah/puskesmas), sumber air.

  • cerita warga (storytelling): kumpulkan kisah banjir/panas/penyakit terkait iklim, lalu tarik pola yang berulang.

  • kolase/gambar: peserta memilih gambar dari majalah/print sederhana: “Kapuas yang aman dari banjir itu seperti apa?”

Metode kreatif membantu warga yang tidak terbiasa rapat formal agar tetap bisa menyampaikan ide.

3) Angkat dan dukung “adaptasi sehari-hari” yang sudah dilakukan warga

Di Kapuas, banyak praktik adaptasi kecil sudah ada (misalnya penguatan rumah, pola tanam, solidaritas pascabanjir). Pemerintah bisa memperkuatnya lewat:

  • dukungan alat sederhana (karung, papan, alat kebersihan pascabanjir),

  • pelatihan kesehatan lingkungan saat banjir,

  • posko gotong royong berbasis RT/RW,

  • sistem informasi lokal yang mudah (grup WA siaga banjir/gelombang panas).

Kuncinya: mengakui praktik warga sebagai bagian sah dari adaptasi, bukan “sekadar kebiasaan”.

4) Bangun “MERL Kapuas” yang fokus belajar, bukan sekadar laporan

Karena evaluasi harus membantu belajar, buat indikator yang mudah dipantau dan relevan bagi warga. Contoh indikator yang lebih membumi:

  • berapa lama sekolah/puskesmas terganggu saat banjir,

  • jumlah rumah yang memiliki rencana evakuasi keluarga,

  • akses air bersih saat musim ekstrem,

  • kejadian diare/ISPA/penyakit kulit pascabanjir,

  • keterlibatan kelompok rentan dalam musyawarah adaptasi,

  • kepuasan warga terhadap respon cepat (bukan hanya jumlah proyek).

Setiap 3–6 bulan, lakukan “forum refleksi” singkat: apa yang berhasil, apa yang tidak, dan kenapa.

5) Pastikan keadilan: “siapa yang paling dilindungi duluan?”

Adaptasi tanpa keadilan bisa membuat kesenjangan makin lebar. Di Kapuas, penting memastikan program memihak kelompok yang paling terdampak:

  • permukiman langganan banjir,

  • keluarga miskin,

  • lansia dan penyandang disabilitas,

  • ibu hamil dan bayi,

  • anak sekolah.

Prinsipnya: “yang paling rentan, paling dulu diperkuat.”


Penutup: adaptasi yang kuat lahir dari imajinasi kolektif dan pembelajaran

Pesan besar dari webinar ini sederhana tapi dalam:
adaptasi bukan hanya membangun, tetapi belajar bersama—dengan mengakui konteks lokal, ragam pengetahuan, dan keadilan.

Kabupaten Kapuas punya modal sosial yang kuat: gotong royong, jejaring komunitas, dan kedekatan warga dengan alam sungai. Jika modal ini dipadukan dengan perencanaan yang partisipatif dan evaluasi yang berorientasi belajar, Kapuas tidak hanya “bertahan” menghadapi perubahan iklim, tetapi bisa menjadi contoh adaptasi yang bermakna dan adil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas